View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Food Science and Technology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Food Science and Technology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Studi Pengembangan Bahan Pengawet Bakso Berbasis Asam dan atau Garam Asetat

      Thumbnail
      View/Open
      Fulltext (1.274Mb)
      Date
      2010
      Author
      Octavia, Margaret
      Hermanianto, Joko
      Koswara, Sutrisno
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Bakso merupakan produk olahan daging yang mudah mengalami kerusakan bila disimpan pada suhu ruang. Terkadang produsen menambahkan boraks atau formalin untuk membuat bakso lebih kenyal dan memperpanjang umur simpan bakso. Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/IX/1988, boraks dan formalin telah dilarang penggunaannya karena dapat menimbulkan efek negatif pada tubuh seperti keracunan, kanker, dan lain-lain. Asam asetat telah banyak digunakan sebagai pengawet, tetapi rasa dan aroma asamnya tidak disukai. Pembuatan larutan pengawet dengan campuran bawang putih dengan metode yang lebih sederhana diharapkan dapat meningkatkan penerimaan sensori asam asetat karena rempah dapat menutupi rasa. Penelitian bertujuan untuk menemukan metode pembuatan larutan pengawet yang lebih mudah sehingga dapat diterapkan pada industri kecil dan menengah dan memiliki harga yang relatif murah. Larutan yang dihasilkan juga diharapkan dapat memperpanjang umur simpan bakso selama minimal 3 hari pada suhu ruang. Penelitian dibagi atas penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Pada penelitian pendahuluan dilakukan pemilihan pengawetan asam asetat atau garam asetat. Selain itu juga dilakukan pembuatan larutan pengawet dengan metode yang lebih sederhana, yaitu perendaman asam asetat dengan bawang putih yang diiris, dimemarkan, dan diblender. Pada penelitian utama dilakukan pemilihan konsentrasi bahan pengawet yang optimum untuk mengawetkan bakso selama 3 hari. Bakso diawetkan dengan metode pencelupan dan perebusan dalam larutan pengawet. Bakso yang telah diawetkan dikemas dalam plastik HDPE dan disimpan pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan selama 3 hari dengan parameter nilai pH, TAT, tekstur, dan total mikroba. Selain itu juga dilakukan uji organoleptik hedonik terhadap bakso yang diawetkan. Larutan pengawet dibuat dengan merendam bawang putih dalam asam asetat 25% dengan perbandingan 30:70 selama 24 jam. Larutan biang yang dihasilkan memiliki rasa asam yang dapat direduksi dengan pH ≤ 3, yaitu 2.88 (Larutan A), 2.90 (Larutan B), 2.94 (Larutan C), dan 2.23 (Larutan D). Bakso yang diawetkan dengan garam asetat sudah mengalami kerusakan pada penyimpanan hari ke-1, sedangkan bakso yang diawetkan dengan metode pencelupan atau perebusan dalam asam asetat dapat diperpanjang umur simpannya minimal selama 3 hari. Berdasarkan penelitian pendahuluan, maka larutan pengawet dipilih sebagai pengawet yang lebih efektif. Konsentrasi larutan pengawet yang optimum adalah 14%. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa bakso yang direbus larutan pengawet memiliki umur simpan yang lebih lama dibandingkan bakso yang dicelup selama 1 menit dalam larutan pengawet. Hasil analisis mikrobiologi, kimia, dan fisik menunjukkan bahwa pengawetan bakso dengan larutan pengawet dan penyimpanannya berpengaruh terhadap nilai total mikroba, pH, TAT, dan tekstur. Hasil uji organoleptik juga menunjukkan perlakuan pengawet menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap bakso kontrol. Bakso yang direbus dalam larutan pengawet memiliki total mikroba dibawah batas maksimal menurut SNI hingga hari ke-3, sedangkan bakso yang dicelup larutan pengawet memiliki total mikroba diatas batas maksimal menurut. Berdasarkan analisis yang dilakukan, bakso yang memenuhi target penyimpanan adalah bakso yang direbus dengan larutan A, B, C, dan D. Metode pembuatan larutan pengawet yang terpilih adalah pembuatan larutan C, yaitu perendaman asam asetat dan bawang putih yang diblender. Biaya yang dibutuhkan untuk mengawetkan bakso dengan metode pencelupan adalah Rp. 166,00/ kg bakso, sedangkan untuk mengawetkan bakso dengan metode perebusan adalah Rp. 829,88/ kg bakso.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/59845
      Collections
      • UT - Food Science and Technology [3623]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository