Show simple item record

dc.contributor.advisorKusnandar, Feri
dc.contributor.advisorPalupi, Nurheni Sri
dc.contributor.authorBegum, Rafiqah Nusrat
dc.date.accessioned2024-05-13T06:45:55Z
dc.date.available2024-05-13T06:45:55Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/149361
dc.description.abstractYodium merupakan bahan mineral yang sangat esensial bagi tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan. Yodium tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga pemenuhannya diperoleh dari asupan makanan. Kekurangan yodium atau biasa disebut sebagai Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan satu-satunya penyebab retardasi mental dan kerusakan otak yang dapat dicegah. Pada tahun 2003, hasil survei nasional menyatakan bahwa Total Goitre Rate (TGR) pada anak sekolah masih berkisar 11.1%. TGR adalah angka prevalensi gondok yang dihitung berdasarkan semua stadium pembesaran kelenjar gondok, baik yang teraba (palpable) maupun yang terlihat (visible). Survei nasional juga menunjukkan bahwa 35.8% kabupaten di Indonesia termasuk ke dalam kategori endemik ringan, 13.1% endemik sedang, dan 8.2% endemik berat (BAPPENAS 2004). Salah satu strategi untuk mengatasi terjadinya kekurangan yodium adalah dengan fortifikasi yodium. Salah satu pangan pembawa fortifikan yodium yang potensial di Indonesia adalah beras sebagai makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun karena permintaan beras semakin meningkat, pemanfaatan beras menir menjadi beras ekstrusi dianggap memiliki potensi sebagai bahan pembawa fortifikan karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan harga beras utuh. Pemanfaatan beras menir juga masih terbatas. Pengolahan beras menir menjadi beras ekstrusi terfortifikasi diharapkan dapat meningkatkan nilai dari beras menir. Sebelum dilakukan fortifikasi ke dalam suatu produk, harus diketahui terlebih dahulu kelayakan produk tersebut sebagai bahan pembawa. Data mengenai stabilitas yodium yang difortifikasi ke dalam beras ekstrusi selama pengolahan dan penyimpanan masih belum banyak. Maka penelitian ini disusun dengan tujuan mengevaluasi stabilitas yodium selama pengolahan dan penyimpanan sehingga konsentrasi fortifikan yodium yang sebaiknya ditambahkan ke dalam beras ekstrusi dapat diketahui. Penelitian yang dilakukan meliputi empat tahap, yaitu tahap penentuan konsentrasi potasium yodat sebagai fortifikan, tahap pembuatan beras ekstrusi terfortifikasi dan penentuan karakteristiknya, tahap pengujian stabilitas potasium yodat pada beras ekstrusi terfortifikasi selama pengolahan, dan tahap pengujian stabilitas potasium yodat pada beras ekstrusi terfortifikasi selama penyimpanan. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcAgricultural Technologyid
dc.subject.ddcFood Science and Technologyid
dc.subject.ddcBogorid
dc.subject.ddcJawa Baratid
dc.titleStabilitas Yodium sebagai Fortifikan dalam Beras Ekstrusi selama Pengolahan dan Penyimpananid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordIodineid
dc.subject.keywordFortificationid
dc.subject.keywordExtruded riceid
dc.subject.keywordBroken riceid
dc.subject.keywordStabilityid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record