| dc.description.abstract | Penggunaan terasi dari produk mentahnya masih menimbulkan nambatan teknis dan psikologis. Pengukusan, pembakaran dan penggorengan merupakan cara pengolahan terasi yang lazim dila- kukan. Cara pengolahan tersebut dirasakan kurang praktis bagi pemakainya. Apalagi mengingat sifat terasi mentah yang berpe- nampakan kotor, tekstur berair serta baunya yang kurang sedap; semakin memperkuat rasa keengganan dalam penggunaan terasi. Karakteristik terasi mentah ini juga menyulitkan penyimpanan- nya, karena bisa menyebabkan lingkungan yang kurang higienis serta memungkinkan bagi tumbuhnya mikroorganisme perusak dan terjadinya reaksi-reaksi kimia lainnya. Oleh karenanya, dalam penelitian ini akan dipelajari pembuatan tepung terasi yang diharapkan bisa mengatasi masalah-masalah tersebut di atas.
Dalam pembuatan tepung terasi, mula-mula terasi mentah yang berbentuk batangan diiris menjadi lempengan-lempengan ti- pis guna mempermudah pengeringannya. Proses pengeringan dan pemasakan terasi dilakukan dengan pengovenan. Setelah masak dan kering, proses berlanjut dengan penggilingan yang mengha- silkan tepung terasi dengan ukuran 100 mesh ke atas. Produk tepung terasi disimpan selama 60 hari untuk mengetahui adanya ... | id |