Perbandingan Sifat Fisikokimia Isolat Protein Tempe dari Kedelai Kecambah dan Non-Kecambah
Abstract
Isolat protein merupakan bahan baku utama atau penunjang di dalam
industri pangan dengan prospek yang luas karena memiliki peran penting dalam
meningkatkan karakteristik fungsional produk pangan. Tingginya impor isolat
protein di Indonesia menyebabkan penelitian terkait produksi isolat protein nonhewani
banyak dikembangkan sebagai alternatif lain dalam penggunaan isolat
protein. Tempe merupakan pangan tradisional Indonesia dengan bahan baku
kedelai yang berpotensi dikembangkan menjadi isolat protein. Adanya proses
fermentasi pada tempe diharapkan memperoleh isolat protein yang lebih baik dari
segi kualitas maupun bioavaibilitas gizinya. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan sifat fisikokimia isolat protein tempe dari kedelai kecambah dan
non-kecambah. Proses perkecambahan merupakan modifikasi bahan baku yang
mampu meningkatkan mutu gizi dari biji-bijian dan kacang-kacangan. Tahapan
penelitian diawali dengan perkecambahan kedelai hingga pembuatan isolat protein
tempe. Analisis yang dilakukan adalah analisis proksimat, fisik dan analisis daya
cerna protein in vitro. Isolat protein tempe dibandingkan dengan isolat protein
kedelai komersial dan disesuaikan dengan standar CODEX. Hasil analisis
proksimat menunjukkan isolat protein tempe (IPT) dan isolat protein tempe
kecambah (IPTK) tidak memenuhi standar CODEX dari kadar protein dan kadar
serat kasarnya. Hasil analisis daya cerna protein in vitro menunjukkan bahwa IPTK
memiliki daya cerna protein yang cenderung lebih tinggi dibandingkan sampel
isolat lainnya
