Show simple item record

dc.contributor.advisorKoswara, Sutrisno
dc.contributor.authorManik, Try Maja
dc.date.accessioned2019-01-16T07:33:37Z
dc.date.available2019-01-16T07:33:37Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/95593
dc.description.abstractHazard analysis and critical control point (HACCP) merupakan sistem digunakan untuk menilai bahaya dan menetapkan sistem pengendalian yang memfokuskan pada pencegahan dan menekankan pentingnya mutu keamanan pangan. Produk sambal kering merupakan salah satu produk IRT Sekolah Seniman Pangan JAVARA yang belum memiliki rencana HACCP, sehingga sistem HACCP perlu dikembangkan untuk mendukung dan meningkatkan jaminan mutu keamanan pangan dari produk sambal kering. Berdasarkan analisis bahaya dan penetapan CCP pada setiap proses produksi, penerimaan bahan baku kecombrang giling halus, sereh giling halus, dan bawang merah bali karet, pencucian bahan baku bawang bali karet dan daun jeruk, pemisahan tulang jeruk, mixing, dan pengeringan memiliki potensi bahaya yang signifikan, namun tidak dikategorikan sebagai CCP. Hasil analisis penentuan pengendalian titik kritis (CCP), proses pencucian bawang merah bali karet dan daun jeruk serta proses sterilisasi merupakan proses yang dikategorikan sebagai CCP. Batas kritis yang ditentukan pada proses pencucian yaitu bahan baku bebas dari benda asing. Pemantauan dilakukan secara visual pada kondisi bahan baku setelah proses dilakukannya proses pencucian. Pemantauan ini dilakukan karyawan yang melakukan pencucian di ruang pencucian. Tindakan koreksi yang dilakukan adalah melakukan pencucian kembali terhadap bahan baku yang masih terdapat benda asing. Verifikasi dilakukan dengan memastikan karyawan paham terkait pemahaman dan prosedur pencucian dan melakukan training karyawan. Record disusun di dalam dokumen pelatihan karyawan. Batas kritis suhu dan waktu pada proses sterilisasi yaitu pada suhu 127 oC dalam waktu 15 menit. Monitoring dilakukan pada suhu dan waktu setrilisasi dengan melakukan pengecekan secara langsung suhu autoklaf. Monitoring dilakukan secara berkala setiap memulai proses sterilisasi. Pemantauan ini dilakukan oleh operator tim produksi di dalam ruangan proses sterilisasi. Tindakan koreksi yang dilakukan adalah melakukan judgment suhu pemanasan apabila alat dapat diatur/judgment. Melakukan penahanan, pemisahan, pengujian mikroba produk, dan mencatat setiap penyebab penyimpangan. Verifikasi dilakukan dengan proses kalibrasi termocontroler pada autoklaf dan alat pengukur waktu proses sterilisasi. Setiap bukti keamanan produk tersusun pada dokumen laporan pemeriksaan produk, formulir kontrol suhu dan waktu proses sterilisasi, log book tindakan koreksi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agriculture University (IPB)id
dc.subject.ddcFood Science and Technologyid
dc.subject.ddcFood Safetyid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcBekasi-Jawa Baratid
dc.titlePenyusunan Dokumen Rencana HACCP pada Proses Produksi Sambal Kering Kecombrang di IRT Sekolah Seniman Pangan JAVARA.id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordanalisis bahayaid
dc.subject.keywordHACCPid
dc.subject.keywordkeamanan panganid
dc.subject.keywordsambal keringid
dc.subject.keywordtitik kritisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record