Show simple item record

dc.contributor.advisorPrangdimurti, Endang
dc.contributor.advisorKusumaningrum, Harsi Dewantari
dc.contributor.authorSitompul, Billy Lasido Zakaria
dc.date.accessioned2018-02-02T03:05:29Z
dc.date.available2018-02-02T03:05:29Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/90516
dc.description.abstractUdang adalah salah satu komoditas ekspor perikanan terbesar di Indonesia. Namun sangat disayangkan, salah satu penolakan impor udang dari Indonesia oleh Amerika disebabkan karena mutu mikrobiologi yang rendah. Sanitasi dari proses produksi produk udang Indonesia dianggap sangat rendah sehingga terjadi kontaminasi sampai ke tingkat toleransi yang tidak dapat diterima. PT Centralpertiwi Bahari, sebagai perusahaan yang mengedepankan mutu, ingin menghilangkan komplain dari pembeli mengenai hal tersebut dengan meningkatkan kualitas sanitasi perusahaan. Caranya adalah mengganti larutan desinfektan sodium hipoklorit dengan yang terbaru, yaitu acidified sodium chlorite (ASC). Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi ASC yang mempunyai daya reduksi mikroorganisme terbesar dengan tetap mempertahankan atribut sensori dan memberikan biaya sanitasi yang murah. Penelitian dimulai dengan tahap pendahuluan, yaitu penentuan jumlah inokulum dalam satu ose koloni kultur murni. Kemudian dilanjutkan dengan tahap uji coba (trial), yaitu mengetahui penurunan jumlah ALT dan E. coli oleh ASC 200 ppm, 312.5 ppm, dan 625 ppm, serta sodium hipoklorit 200 ppm pada skala laboratorium. Setelah itu, penelitian dilanjutkan dengan tahap validasi, yaitu meneliti penurunan jumlah mikroorganisme oleh ASC 200 ppm dan 25 ppm, serta sodium hipoklorit 200 ppm dan 25 ppm pada skala industri. Evaluasi sensori kemudian dilakukan sehingga bisa diketahui nilai konsentrasi yang menyebabkan perubahan sensori. Biaya penerapan masing-masing sanitasi dihitung sehingga dapat ditentukan desinfektan yang memberikan biaya sanitasi termahal dan termurah. Hasil yang didapat dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pada skala laboratorium, ASC 200 ppm, 312.5 ppm, dan 625 ppm lebih baik daripada sodium hipoklorit 200 ppm, namun ASC 200 ppm, 312.5 ppm, dan 625 ppm saling tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 95%. Namun pada skala industri, ASC 200 ppm dan sodium hipoklorit 200 ppm serta ASC 25 ppm dan sodium hipoklorit 25 ppm tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 95%. Hasil evaluasi sensori menunjukkan informasi bahwa sampel yang sudah terkena perlakuan ASC 200 ppm, 312.5 ppm, dan 625 ppm, serta sodium hipoklorit 200 ppm mempunyai hasil tidak berbeda nyata pada taraf signifikansi 95% di semua atribut sensori. Evaluasi biaya memberikan informasi bahwa biaya penerapan ASC jauh lebih besar dari sodium hipoklorit. Oleh karena itu, ASC hanya dipakai untuk produk rework dan sodium hipoklorit tetap dipakai pada produksi normal.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcFood Sciencesid
dc.subject.ddcFood Preservationid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcTulang Bawang, Lampungid
dc.titleEvaluasi Pengaruh Penggunaan Acidified Sodium Chlorite (ASC) pada Udang Putih (Litopenaeus vannamei di PT Centralpertiwi Bahari Plant Bratasena Lampung.id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordDesinfektanid
dc.subject.keywordAcidified Sodium Chloriteid
dc.subject.keywordASCid
dc.subject.keywordudang putihid
dc.subject.keywordevaluasiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record