Karakteristik dan Potensi Risiko Keamanan Pangan Olahan Siap Saji Pada Program Makan Bergizi Gratis: Studi Kasus di Wilayah Bogor
Date
2026Author
MARIZQI, HANIFA MAULIDINA
Indrasti, Dias
Dewanti, Ratih
Metadata
Show full item recordAbstract
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan program pemerintah
yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, dan balita.
Akan tetapi, sebanyak 33.626 kejadian luar biasa keracunan pangan (KLB-KP)
dilaporkan di tahun 2025/2026, melebihi angka KLB-KP tahun-tahun sebelum
diterapkan Program MBG. Umumnya KLB-KP yang dilaporkan disebabkan oleh
kontaminasi bakteri patogen pada pangan olahan siap saji (POSS) yang disajikan.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi praktik penanganan dan pengolahan pangan
pada tiga SPPG, mengidentifikasi jenis POSS yang disajikan dalam Program MBG
di wilayah Bogor, serta menganalisis karakteristik intrinsik pangan yakni
kandungan gizi, aktivitas air (Aw), dan pH. Penelitian dilakukan melalui survei
pada tiga SPPG di wilayah Bogor menggunakan kuesioner mengacu Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1096 Tahun 2011, serta analisis laboratorium terhadap
25 sampel POSS meliputi analisis kandungan gizi serta pengukuran Aw dan pH.
Hasil penelitian menemukan praktik penyimpanan pada suhu ruang dan waktu
tunggu penyajian mencapai 3-6 jam, melebihi batas aman yang ditetapkan. Selain
itu, hasil menunjukkan bahwa menggoreng merupakan teknik pengolahan paling
banyak digunakan untuk pengolahan POSS Program MBG. Berdasarkan porsi
penyajiannya, menu MBG didominasi pangan tinggi protein dan karbohidrat serta
memiliki nilai Aw (0,895-0,999) dan pH (5,267-8,839) yang mendukung
pertumbuhan bakteri patogen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa POSS dalam
Program MBG memiliki risiko kontaminasi mikrobiologis tinggi, sehingga
diperlukan perbaikan kontrol suhu, waktu tunggu, dan higiene sanitasi selama
penanganan dan penyajian guna menekan risiko keracunan pangan pada program
tersebut. The Free Nutritious Meals Program is a government program aimed at
meeting the nutritional needs of schoolchildren, pregnant women, and toddlers.
However, as many as 33,626 cases of food poisoning outbreaks were reported in
2025/2026, exceeding the number of food poisoning cases in the years prior to the
implementation of the Program. Generally, cases of food poisoning were reported
to be caused by pathogenic bacterial contamination in ready-to-eat foods that were
served. This study aims to evaluate food handling and processing practices at
Nutrition Program Implementation Units (SPPG), identify the types of ready-to-eat
foods served in this program, and analyze the intrinsic characteristics of the food,
namely nutritional content, water activity (Aw), and pH. The study was conducted
through a survey of three SPPGs in the Bogor area using a questionnaire based on
Minister of Health Regulation No. 1096 of 2011, as well as laboratory analysis of
25 food sample, including an evaluation of macronutrient content, and Aw and pH
measurement. The results showed that storage at room temperature and waiting
times before serving ranged from 3 to 6 hours, exceeding the established safety
limits. Additionally, it was found that frying was the most commonly used cooking
technique for the foods served. Based on serving sizes, the foods served were
predominantly high in protein and carbohydrates and had Aw (0.895–0.999) and
pH (5.267–8.839) values that support the growth of pathogenic bacteria. This study
concludes that the ready-to-eat meals in this program carry a high risk of
microbiological contamination. Therefore, improvements are needed in
temperature control, holding times, and sanitation practices during handling and
serving to reduce the risk of food poisoning in the program.

