Hubungan Kebiasaan Makan serta Penggunaan Suplemen dan Pereda Nyeri terhadap Kejadian Premenstrual Syndrome pada Mahasiswi IPB
Date
2026Author
Fitri, Asshifa Nuraini
Dwiriani, Cesilia Meti
Dwiriani, Cesilia Meti
Metadata
Show full item recordAbstract
Premenstrual syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik, emosional, dan perilaku yang muncul pada fase pramenstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan makan serta penggunaan suplemen dan pereda nyeri dengan kejadian PMS pada mahasiswi IPB. Penelitian menggunakan desain case-control dengan 128 subjek, terdiri atas 64 kelompok PMS dan 64 kelompok non-PMS. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) serta pengukuran antropometri secara langsung dan self-reported. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik subjek dan keluarga serta riwayat menstruasi yang meliputi usia menarche, siklus menstruasi, dan lama menstruasi tidak berbeda signifikan antara kedua kelompok (p>0,05). Perbedaan signifikan ditemukan pada derajat keluhan PMS dan riwayat PMS pada ibu. Tingkat kecukupan energi, protein, lemak, karbohidrat, serat, magnesium, vitamin B6, zat besi, vitamin D, dan kalsium tidak berhubungan signifikan dengan PMS (p>0,05). Sebaliknya, penggunaan suplemen dan pereda nyeri berhubungan signifikan dengan PMS. Uji Mann-Whitney juga menunjukkan perbedaan frekuensi konsumsi telur bebek, udang, cumi-cumi, jeruk manis, dan pir yang lebih tinggi pada kelompok PMS, sedangkan konsumsi tempe lebih tinggi pada kelompok non-PMS (p<0,05). Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi peran konsumsi pangan sumber fitoestrogen, khususnya tempe, terhadap gejala PMS. Premenstrual syndrome (PMS) is a group of physical, emotional, and behavioral symptoms that occur during the premenstrual phase and may interfere with daily activities. This study aimed to analyze the association of dietary habits and the use of supplements and pain relievers with PMS among female students at IPB University. A case-control design was used involving 128 subjects, consisting of 64 PMS and 64 non-PMS subjects. Data were collected through interviews using a Semi-Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) and direct and self-reported anthropometric measurements. Data were analyzed using the Mann-Whitney and chi-square tests. Subject and family characteristics, as well as menstrual history including age at menarche, menstrual cycle, and duration, did not differ significantly between groups (p>0.05). Significant differences were found in PMS symptom severity and maternal history of PMS. Nutrient adequacy levels were not significantly associated with PMS (p>0.05). In contrast, supplement and pain reliever use were significantly associated with PMS. The Mann-Whitney test showed differences in the frequency of duck egg, shrimp, squid, orange, and pear consumption, which were higher in the PMS group, while tempeh consumption was higher in the non-PMS group (p<0.05). Further research may explore the role of phytoestrogen-rich foods, particularly tempeh, in PMS symptoms.
Collections
- UF - Nutrition Science [3258]

