| dc.contributor.advisor | Suryadarma, Prayoga | |
| dc.contributor.author | HANAFI, FAREZA | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-04T23:11:52Z | |
| dc.date.available | 2026-08-04T23:11:52Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177147 | |
| dc.description.abstract | Ampas bawang merah merupakan limbah agroindustri yang berpotensi
dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak karena masih mengandung serat yang tinggi,
namun memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi sehingga daya cernanya rendah.
Penelitian ini bertujuan menentukan umur kultur bakteri lignolitik OBF412 yang optimal,
mengevaluasi penggunaan air kondensat sebagai media fermentasi, serta membandingkan
efektivitas OBF412 dengan EM4 dalam mempercepat biodegradasi ampas bawang merah.
Penelitian diawali dengan karakterisasi bahan baku, penentuan kurva pertumbuhan
OBF412, kemudian fermentasi menggunakan kultur fase eksponensial (4,5 jam) dan fase
stasioner awal (12 jam), dengan penambahan akuades atau air kondensat sebagai sumber
kelembapan. Efektivitas proses dievaluasi berdasarkan kadar Acid Detergent Fiber
(ADF) dan dianalisis menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ampas bawang merah memiliki kadar ADF awal sebesar
35,61%. Penggunaan kultur OBF412 fase stasioner awal dengan air kondensat
memberikan hasil terbaik dengan menurunkan kadar ADF menjadi 22,99%, lebih rendah
dibandingkan penggunaan akuades maupun EM4. Nilai tersebut telah memenuhi standar
kadar ADF untuk pakan ruminansia (<25%), sehingga menunjukkan peningkatan potensi
kecernaan ampas bawang merah sebagai bahan pakan. Hasil penelitian membuktikan
bahwa penggunaan kultur OBF412 fase stasioner awal yang dikombinasikan dengan air
kondensat merupakan perlakuan paling efektif dalam mempercepat biodegradasi
lignoselulosa pada ampas bawang merah. | |
| dc.description.abstract | Shallot waste is an agroindustrial by-product with potential as ruminant feed due to
its remaining nutritional content. However, its high lignocellulosic content limits
digestibility. This study aimed to determine the optimal growth phase of the ligninolytic
bacterium OBF412, evaluate the use of condensate water as a fermentation medium, and
compare the effectiveness of OBF412 and EM4 in accelerating the biodegradation of
shallot waste. The research consisted of raw material characterization, determination of
the OBF412 growth curve, and fermentation using cultures at the exponential phase (4.5
h) and early stationary phase (12 h) with distilled water or condensate water as the
moisture source. Fermentation performance was evaluated based on Acid Detergent Fiber
(ADF) content and analyzed using Analysis of Variance followed by Tukey's test. The
results showed that untreated shallot waste contained an initial ADF content of 35.6080%.
Fermentation using OBF412 at the early stationary phase with condensate water produced
the lowest ADF content of 22.99%, outperforming treatments using distilled water and
EM4. This value met the recommended ADF requirement for ruminant feed (<25%),
indicating improved digestibility of the fermented substrate. These findings demonstrate
that the combination of early stationary-phase OBF412 culture and condensate water is
the most effective treatment for accelerating lignocellulosic biodegradation and
improving the quality of shallot waste as a ruminant feed ingredient. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Evaluasi Starter Bakteri Lignolitik OBF412 dan Kondisi Biokonversi dalam Meningkatkan Kecernaan Ampas Bawang Merah PT XYZ | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Skripsi | |
| dc.subject.keyword | Acid Detergent Fiber | id |
| dc.subject.keyword | air kondensat | id |
| dc.subject.keyword | ampas bawang merah | id |
| dc.subject.keyword | kecernaan | id |
| dc.subject.keyword | OBF412 | id |
| dc.subtype | Undergraduate Theses | |