| dc.description.abstract | Latihan beban merupakan faktor utama kekuatan dan komposisi tubuh yang efektivitasnya bergantung pada asupan protein. Penelitian cross-sectional ini menganalisis hubungan frekuensi latihan dan pola konsumsi protein dengan persen otot pada 66 praktisi fitness laki-laki di Heroes Gym, Dramaga (purposive sampling). Data dikumpulkan via kuesioner, food recall 2x24 jam, SQ-FFQ, dan BIA Omron HBF-375. Mayoritas subjek berusia 18–25 tahun (24,52±6,02 tahun), mahasiswa (77,3%), pemula <3 bulan (83,3%), dan berlatih 3–4 kali/minggu (78,8%). Lauk hewani memiliki frekuensi konsumsi harian tertinggi (5,79±0,83 kali/hari). Kecukupan protein subjek berkategori defisit sedang via food recall (76,01%±26,40%), namun normal cenderung berlebih via SQ-FFQ
(109,96%±34,17%), dengan 78,8% subjek memiliki persen otot normal-tinggi dan persen lemak normal-tinggi. Uji Spearman menunjukkan persen otot tidak berhubungan signifikan dengan frekuensi latihan (p=0,616; r=0,063) maupun frekuensi konsumsi protein (p>0,05). Sebaliknya, hubungan positif signifikan ditemukan antara jumlah asupan protein absolut (gram) dengan persentase otot, baik via food recall (p=0,003; r=0,364) maupun SQ-FFQ (p=0,023; r=0,280). Kuantitas asupan protein absolut menjadi determinan utama persen otot praktisi dibandingkan faktor frekuensi latihan. | |