Pengambilan Keputusan Multi Kriteria Aspek Pembibitan Dan Reproduksi Di Peternakan Erif Farm Cisarua Kabupaten Bogor
Abstract
Penurunan produksi susu nasional dan belum optimalnya produktivitas sapi
perah menuntut perbaikan manajemen reproduksi di tingkat peternakan. Penelitian
ini bertujuan mengevaluasi penerapan good dairy farming practices (GDFP) pada
aspek pembibitan dan reproduksi di Erif Farm menggunakan metode analytical
hierarchy process (AHP). Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025–Januari
2026 melalui observasi, wawancara, kuesioner GDFP, serta penilaian pakar untuk
pembobotan AHP. Tujuh faktor dianalisis, yaitu bangsa sapi, seleksi, cara kawin,
pengetahuan birahi, umur beranak pertama, waktu kawin setelah beranak, dan
calving interval. Hasil menunjukkan capaian 92,42% dengan nilai performa
gabungan 92,64% (kategori sangat baik). Calving interval menjadi faktor paling
prioritas, diikuti waktu kawin setelah beranak dan pengetahuan birahi. Meskipun
performa reproduksi sangat baik, perbaikan pencatatan dan ketepatan inseminasi
buatan masih diperlukan untuk mengoptimalkan jarak beranak serta meningkatkan
efisiensi dan produktivitas sapi perah secara berkelanjutan. The decline in national milk production and suboptimal dairy cattle productivity
require improvements in reproductive management at the farm level. This study aimed
to evaluate the implementation of good dairy farming practices (GDFP) in the breeding
and reproduction aspects at Erif Farm using the analytical hierarchy process (AHP).
The research was conducted from December 2025 to January 2026 through observation,
interviews, GDFP questionnaires, and expert judgment for AHP weighting. Seven
factors were analyzed: breed, selection method, mating method, estrus detection, age
at first calving, postpartum mating interval, and calving interval. The results showed
an achievement score of 92.42% with a combined performance value of 92,64% (very
good category). Calving interval was identified as the highest priority factor, followed
by postpartum mating interval and estrus detection. Although reproductive
performance was very good, improvements in recording systems and timely artificial
insemination are still required to optimize calving intervals and enhance dairy cattle
productivity sustainably.

