Pengembangan Produk Baru Pupuk Organik Simbiotik melalui Analisis Usahatani dan Permasalahan Pengaplikasian Pupuk Organik
Abstract
Pupuk organik simbiotik seperti Jamu Bumi memiliki potensi pasar sebagai
peluang usaha, namun masih membutuhkan pengujian dan pengembangan lebih
lanjut. Keberhasilan produk baru bergantung pada kemampuan perusahaan
memahami kebutuhan konsumen dengan biaya efisien. Penelitian ini
membandingkan hasil produksi dan analisis usahatani padi antara pupuk Jamu
Bumi dan pupuk kimia, serta mengidentifikasi permasalahan pengaplikasian pupuk
organik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka.
Analisis usahatani mencakup struktur biaya, penerimaan, pendapatan, R/C ratio,
B/C ratio, BEP, dan metode ISM. Hasilnya, R/C ratio Jamu Bumi mencapai 1,99
B/C ratio 0,99, dan BEP rendah yang lebih layak dibanding pupuk kimia dengan
R/C 1,89, B/C 0,89, dan BEP lebih tinggi. Analisis ISM menunjukkan kendala
utama adalah terbatasnya akses dan pengetahuan petani, dengan peran kunci berada
di tangan pemerintah daerah dan akademisi. Symbiotic organic fertilizers like Jamu Bumi offer promising market potential
and business opportunities, though further testing and development are still needed.
The success of such new products depends on the company’s ability to understand
consumer needs while maintaining cost efficiency. This study compares the
production outcomes and farming analysis of rice cultivation using Jamu Bumi
versus chemical fertilizers, while also identifying key challenges in the application
of organic fertilizers. Data were collected through field observation, direct
interviews, questionnaires, and literature review. The farming analysis includes
cost structure, revenue, farm income, R/C ratio, B/C ratio, BEP analysis and
Interpretive Structural Modeling (ISM). Results show that Jamu Bumi achieved an
R/C ratio of 1.99, B/C ratio of 0.99, and a low-valued BEP, outperforming chemical
fertilizers with an R/C ratio of 1.89, B/C ratio of 0.89, and a high-valued BEP. ISM
analysis revealed the main obstacle in organic fertilizer application is the limited
access and knowledge among farmers, with local governments and academics
identified as key actors in addressing these issues.
Collections
- UT - Management [3626]
