| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik fisik, perilaku konsumsi kedelai dan produk turunannya, serta status gizi dengan sindrom menopause. Adapun tujuan penelitian ini secara khusus adalah: (1) Menganalisis karakteristik sosial-ekonomi (pendidikan, pendapatan, dan besar keluarga) wanita usia lanjut; (2) Menganalisis karakteristik individu meliputi usia, usia menarche, karakteristik fisik, dan pengetahuan gizi mengenai menopause; (3) Menganalisis aktivitas fisik dan status gizi wanita usia lanjut; (4) Menganalisis perilaku konsumsi kedelai dan produk turunannya serta sindrom menopause; (5) Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sindrom manopause.
Desain penelitian yang digunakan adalah retrospective. Penelitian dilakukan terhadap Peserta Program Lifeskill Wanita Pra dan Usia Lanjut di Bogor yang diambil sebagai satu populasi. Populasi adalah peserta pelatihan berusia 55 tahun ke atas, bugar, telah mengalami menopause minimal 1 tahun, bersedia dan dapat diwawancarai serta tidak bungkuk. Secara keseluruhan jumlah populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 31 orang.
Data primer diperoleh dari pengukuran dan wawancara langsung dengan responden. Pengukuran fisik dilakukan dengan menggunakan timbangan berat badan, microtoise, dan pita pengukur meliputi data berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang, Lingkar Lengan Atas (LILA), dan lingkar betis. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner meliputi; karakteristik sosial-ekonomi; karakteristik individu; karakteristik dan aktivitas fisik; perilaku konsumsi pangan meliputi asupan jenis dan frekuensi makan (FFQ), energi dan zat gizi (recall 1 x 24 jam); dan sindrom menopause. Data sekunder meliputi profil wanita usia lanjut dan Program Lifeskill Wanita Pra dan Usia Lanjut di Bogor.
Analisis gambaran menggunakan statistik deskriptif. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman's rho serta regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sindrom menopause. Hasil analisis secara deskriptif menunjukkan bahwa sebanyak 45.2% populasi menjalani pendidikan formal sampai dengan SD, perguruan tinggi sebanyak 25.8%, SMA 19.4%, dan SMP sebanyak 3.2%. Sebagian besar (48.4%) populasi memiliki pendapatan antara Rp 1 000 000 3 000 000 /kapita/bulan. Mayoritas (61.3%) populasi tergolong dalam keluarga kecil (s4 orang). Populasi rata-rata berusia 64.5 ± 9.0 tahun dan mengalami menarche pada usia 13.42 ± 1.78 tahun tergolong dalam usia ideal menarche. Rata-rata berat badan populasi adalah 58.6 ± 10.1 kg, tinggi badan 148.6 ± 5.9 cm, LLA sebesar 28.6 ± 3.8 cm yang tergolong normal, lingkar betis sebesar 33.2 ± 3.3 cm tergolong normal, dan lingkar pinggang sebesar 92.8 ± 10.4 cm yang tergolong obesitas abdominal. Sebagian besar (71%) populasi memiliki pengetahuan gizi menopause cukup.
Penilaian status gizi berdasarkan IMT, sebagian besar populasi memiliki status gizi gemuk (45.2%), menurut LLA dan lingkar betis status gizi populasi adalah normal (96.8%), serta tergolong gemuk menurut lingkar pinggang (90.3%). Secara umum dapat dikatakan bahwa populasi ini sebagian besar berstatus gizi lebih. Rata-rata aktivitas populasi tergolong ringan dengan nilai tingkai aktivitas sebesar 1.69. Sebanyak 67.7% populasi memiliki kebiasaan berolahraga setiap harinya. Populasi yang tidak memiliki kebiasaan berolahraga sejumlah 32.3%. Alasan populasi tidak terbiasa melakukan olahraga adalah karena tidak ada waktu, merasa lelah dengan kegiatan rumah tangga, dan malas untuk berolahraga.
Makanan sumber karbohidrat yang paling sering dikonsumsi adalah nasi sebesar 20.5 ± 1.7 kali/minggu. Protein hewani yang paling sering dikonsumsi adalah susu, yaitu rata-rata dikonsumsi 5.3 ± 5.2 kali/minggu. Protein hewani yang sering dijadikan sebagai lauk adalah telur dengan rataan frekuensi sebanyak 3.6 ± 3.4 kali/minggu. Jenis kacang-kacangan yang paling sering dikonsumsi adalah tahu dengan rataan frekuensi 4.7 ± 1.6 kali/minggu, tempe 4.2 ± 1.3 kali/minggu dan oncom 1.2 ± 1.5 kali/minggu. Mentimun merupakan jenis sayuran yang dikonsumsi sebanyak 8.1 kali dalam seminggu. Jenis sayuran lain yang juga sering dikonsumsi adalah bayam (2.4 ± 1.1 kali/minggu) dan kangkung (2.5 ± 1.1kali/minggu). Buah-buahan yang paling sering dikonsumsi adalah pepaya yaitu sebanyak 2.6 ± 1.6 kali/minggu dan jeruk sebanyak 2.2 ± 1.2 kali/minggu. Rataan asupan air populasi adalah 7.0 ± 1.3 gelas/hari.
Rataan asupan energi populasi adalah 1509 ± 282 kkal dengan tingkat kecukupan sebesar 85.4%. Rataan asupan protein populasi adalah 46.4 ± 13.4 gram sehari dan memenuhi 87.9% kecukupan. Tingkat kecukupan energi dan protein populasi tergolong dalam defisit tingkat ringan (Depkes 1996). Rataan asupan kalsium populasi adalah 361.0 ± 216.9 mg per hari dengan tingkat kecukupan sebesar 45.1% (kurang).
Mayoritas populasi memiliki kebiasaan konsumsi kedelai sedang dengan jumlah asupan isoflavon rata-rata sebesar 20.1 ± 6.1 g/hari atau hanya memenuhi 25.1% dari anjuran Departemen Kesehatan dengan frekuensi sedang (71%). Sebagian besar populasi mengalami menopause pada usia kurang dari 50 tahun (65.5%). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi (IMT) dengan gambaran diri ( r = - 0.287 , p > 0.05), keluhan menopause ( r = - 0.299 , P > 0.05 ) dan kecemasan ( r = - 0.38 , p> 0.05). Aktifitas fisik berhubungan nyata dengan gambaran diri ( r = - 0.454 , p < 0.05). Konsumsi kedelai berhubungan secara nyata terhadap tingkat kecemasan populasi ( r = - 0.445 , p < 0.05 )
Faktor aktivitas berpengaruh nyata terhadap gambaran diri (R2 = 0.206, p < 0.05 ) Status gizi dan konsumsi isoflavon kedelai berpengaruh secara nyata keluhan menopause ( R ^ 2 = 0.238 , p < 0.05 ) . Konsumsi isoflavon kedelai berpengaruh secara nyata terhadap tingkat ( R ^ 2 = 0.198 , p < 0.05), dan sindrom menopause secara keseluruhan ( R ^ 2 = 0.19 , p < 0.05 ) . Konsumsi kedelai dan produk turunannya dapat dijadikan sebagai alternatif terapi pengganti estrogen yang alami, aman, dan effektif. | id |