Perbedaan Preferensi dan Kebiasaan Makan Mahasiswa IPB asal Sumatera Utara dan Jawa Timur
Abstract
Mahasiswa merupakan kelompok populasi yang banyak berada pada masa transisi, salah satunya adalah transisi lokasi tinggal. Transisi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan kurang sehat. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan antara preferensi dan kebiasaan makan mahasiwa IPB dari dua daerah yang berbeda, yaitu Sumatera Utara dan Jawa Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah subjek 35 orang. Seluruh subjek berada pada kategori usia dewasa (19-25 tahun) dengan rata-rata durasi tinggal di daerah asal selama 18,20±2,43 tahun. Tidak terdapat perbedaan signifikan (p>0,05) pada karakteristik keluarga maupun sosio ekonomi antara kedua kelompok subjek. Terdapat perbedaan pada riwayat penyakit keluarga (p=0,01), lebih banyak pada subjek Jawa Timur. Perbedaan preferensi terdapat pada teh tanpa gula (p=0,030) dan kopi tanpa gula (p=0,041). Perbedaan kebiasaan makan terdapat pada susu dan produk susu dengan pemanis (p=0,01), teh tanpa gula (p= 0,01), dan jenis bumbu
digulai (p=0,03). Tingkat preferensi tinggi pada suatu bahan makanan tidak selalu berhubungan dengan frekuensi konsumsinya, dengan beberapa pengecualian. Kebiasaan makan mahasiswa IPB memiliki hubungan dengan riwayat penyakit keluarga pada teknik pengolahan ditumis (p=0,026). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan program preventif pada populasi ini dapat difokuskan pada pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak. College students are a population that often have some kind of transition period, especially transition of residential location. This transition is linked with an unfavorable eating habit. This purpose of this research was analyzing differences between food preferences and eating habit of IPB students from two different regions, namely North Sumatra and East Java. This research used cross-sectional method with 35 subjects. All subjects are considered adults (19-25 years old) with average residency duration in their original regions of 18.20±2.43 years. There were no significant differences within either family characteristics or socio economical between two groups. There was a significant difference with family history in disease (p=0.01), more within the East Java’s subjects. Differences in food preferences happened in unsweetened tea (p=0.03) and unsweetened coffee (p=0.04). Differences in eating habit happened with sweetened dairy products (p=0.01), unsweetened tea (p=0.01), and food cooked in ‘gulai’ seasoning (p=0.031). High preference within some foods didn’t always correlate with the consumption’s frequency of said foods, with a few exceptions. There was a correlation between eating habit and family history of diseases on sauteed food (p=0.026). This research showed that preventive health programs within this population could focus on limiting sugar, salt, and fat consumption.
Collections
- UT - Nutrition Science [3184]
