Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Tiwul Dr Pedesaan Dan Perkotaan Di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Date
2004Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi tiwul di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten ';::;unung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Y ogyakarta. Tujuan khusus penelitian adalah (I) mengetahui karakteristik sosial ekonomi keluarga (umur, besar keluarga, tingkat pendidikan, pekerjaan dan pendapatan) di pedesaan dan perkotaan; (2) mengetahui ketersediaan pangan pokok keluarga di pedesaan dan perkotaan; (3) mengetahui tingkat pengetahuan gizi ibu di pedesaan dan perkotaan; (4) mengetahui kebiasaan makan keluarga di pedesaan dan perkotaan; (5) mengetahui kebiasaan makan tiwul keluarga di pedesaan dan perkotaan; (6) mengetahui konsumsi tiwul dan kontribusi/sumbangan energi dan protein tiwul terhadap 10tal konsumsi energi dan protein per hari serta terhadap angka keeukupan gizi yang dianjurkan di pedesaan dan perkotaan; (7) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi tiwul di pedesaan dan perkotaan. Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penelitian dilakukan di Desa Tepus, Keeamatan Tepus sebagai representasi wilayah pedesaan dan di Desa Baleharjo, Keeamatan Wonosari sebagai representasi wilayah perkotaan pada bulan Juli sampai Agustus 2003. Penentuan lokasi penelitian dilakukan seeara purposive. Contoh penelitian adalah keluarga yang tinggal di pedesaan dan perkotaan di Kabupaten Gunung Kidul. Dari masing-masing lokasi, diambil 30 keluarga seeara aeak sederhana (Simple Random Sampling). Jumlah total keluarga yang diteliti adalah 60 ke1uarga. Responden penelitian adalah ibu rumah tangga. lenis data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data keadaan sosial ekonomi (umur, besar keluarga, jenjang pendidikan, jenis peketjaan dan pendapatan); ketersediaan pangan pokok: tingkat pengetahuan gizi; kebiasaan makan keluarga (frekuensi makan, makanan yang disukai dan yang tidak disukai, tabu/pantangan, penyiap makanan, prioritas pembagian pangan keluarga, kebiasaan makan makanan selingan dan kebiasaan makan di luar rumah/jajan); kebiasaan makan tiwul (frekuensi konsumsi, nilai sosial tiwul, alasan mengkonsumsi, jenis olahan yang disukailtidak); dan konsumsi pangan dikumpulkan dengan eara wawancara menggunakan kuesioner. Data sekunder mengenai keadaan umum lokasi penelitian, letak geografis desa, jumlah penduduk, mata peneaharian penduduk, sarana perhubungan, fasilitas dan data hasil pertanian desa diperoleh dari Kantor Statistik dan Kantor Pemerintah Daerah setempat. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dikategorikan dan diolah menggunakan tabulasi silang, kemudian dianalisis seeara deskriptif dan inferensial dengan menggunakan program komputer Microsoft Excel dan SPSS ii.O. Rata-rata umur ayah di desa adalah 40 tahun dan di kota adalah 49 tahun. Rata-rata umur ibu di desa adalah 34 tahun dan di kota adalah 41 tahun. Rata-rata besar keluarga di desa dan kota adalah empat orang, tingkat pendidikan ayah sebagian besar adalah SD (desa:73,3%, kota:46,7%), tingkat pendidikan ibu juga sebagian besar hanya SD (desa:90%, kota:53,3%). Pekerjaan utama mayoritas (56,7%) ayah dan (46.7%) ibu di desa adalah petani, sedangbn di kota persentase terbesar (30% ayah dan 30% ibu) bekerja sebagai buruh (tani, bangunan dan pabrik). Sebanyak 53,3% pendapatan per kapita contoh di desa termasuk dalam kategori tinggi. Rata-rata pendapatan per kapita eontoh di desa adalah Rp 119.025,00. Di kota, persentase contoh yang mempunyai pendapatan per kapita tinggi sebanyak 80%. Rata-rata pendapatan eontoh di kota sebesar Rp 294.575,00. Rata-rata ketersediaan beras di rumah tangga eontoh di desa sebanyak 11,2 kg, di kota 13,9 kg. Ketersediaan gabah di desa rata-rata sebanyak 57 kg sedangkan di kota 11,7 kg. Rumah tangga di desa mempunyai rata-rata ketersediaan gaplek 137 kg dan di kota 49,2 kg. Rata-rata ketersediaan jagung di desa 73 kg dan di kota 2,9 kg. Mayoritas (60%) contoh di desa memiliki tingkat pengetahuan gizi ibu kurang, sisanya (40%) sedang dan ttdak ada satu pun yang memiliki tingkat pengetahuan gizi baik. Di kota mayoritas (40%) ibu mempunyai tingkat pengetahuan gizi yang baik, sisanya sedang (36,7%) dan kurang (23,3%). Hasil penelitian yang berkaitan dengan kebiasaan makan adalah sebagai berikut: frekuensi makan pada dua kelompok contoh sarna yaitu 3x sehari, penyediaan dan penyiapan makanan pada 90% contoh di desa dan 80% contoh di Irota dilakukan oleh ibu. Pada 60% contoh di desa dan 43,3% di kota, ayah selalu mendapatkan prioritas terbesar dalam hal pembagian pangan keluarga. Makanan yang disukai contoh pada kelompok pangan padi-padian adalah beras dan untuk umbi-umbian adalah tiwul. Pada kelompok pangan sayur dan buah, yang disukai contoh adalah daun pepaya, daun singkong, bayam, jambu, pisang dan pepaya. Pada umumnya contoh baik di des a maupun kota, tidak mempunyai makanan yang tidak disukai. Sebesar 46,7 % contoh di desa dan 63.3% contoh di kota tidak memantang satu jenis makanan pun. Sisanya, 53.3% contoh di desa dan 36.7% contoh di kota mempunyai pantangan terhadap makanan tertentu, antara lain, daging ayam, es, kopi, teh, kol, bayam, semangka, madu dan belalang. Mayoritas (60%) contoh di desa dan 46,7% contoh di kota selalu mengkonsumsi makanan selingan setiap hari. Seb"nyak 66,7% contoh di desa dan 40% di kota tidak pemah makan diluar rumah (jajan). Persentase terbesar (36,7%) contoh di desa mempunyai frekuensi konsumsi tiwul lebih dari satu kali sehari. Di kota, persentase terbesar (43,3%) contoh mempunyai frekuensi konsumsi tiwtll kurang dari tiga kali seminggtI. Jenis olahan tiwul yang disukai oleh 63,3% contoh di desa adalah tiwul yang dikukus biasa, di kota, 47,6% contoh lebih menyukai tiwul yang dikukus dengan ditambahkan gtIla dan kelapa. Apabila contoh dipersilahkan memilih nasi dari beras, tiwul dan nasi dari jagung, 76,7% contoh didesa dan 83,3% contoh di kota memilih nasi dari beras karena beras dianggap mempunyai nilai sosial lebih tinggi bila dibandingkan tiwul atau nasi jagung. Alasan mengkonsumsi ti"ul 66,7% contoh di desa adalah karena alasan ekonomi, sedangkan 33,3% contoh di kota adalah karena untuk hidangan selingan dan mengobati rasa rindu ingin makan tiwul. Konsumen tiwul di rumah tangga contoh di desa sebagian besar (43,3%) adalah seluruh anggota rumah tangga tanpa kecuali, sedangkan di kota sebagian besar (36,7%) adalah nenek atau kakek yang berusia lanju!. . Ada perbedaan konsumsi energi di des a dan kota. Rata-rata konsumsi energi di desa adalah 1744 Kal perhari dan dikota sebesar 1879 Kal per hari. Rata-rata konsumsi protein contoh di desa sebesar 41,4 gram'hari sedangkan di kota 45,5 gramlhari. Ada perbedaan konsumsi tiwul di desa dan kota. Rata-rata konsumsi tiwul perhari didesa sebesar 420 kalorilhari sedang di kota sebesar 169 kalorilhari. Kontribusi tiwul terhadap total konsumsi per hari di desa adalah 25,5% sedangkan di kota sebesar 9,8%. Sumbangan energi dari tiwul terhadap Angka Kecukupan Energi Rata-rata Keluarga per hari di desa sebesar 20,4% dan di kota sebesar 8,3%. Rata-rata konsumsi protein dari ti"ul di desa sebesar 1,27 gramlhari sedangkan di kota 0,52 gramlhari. Kontribusi tiwul terhadap total konsumsi protein per hari adalah sebesar 4,45% untuk di desa dan 1,76% untuk di kota. Sumbangan protein dari tiwul terhadap Angka Kecukupan Protein Rata-rata Keluarga per hari di desa sebesar 3,15% dan di kota sebesar 1,2% Hasil uji Korelasi Spearman, pada contoh di desa, tidak ditemukan hubungan antara faktor sosia! ekonomi, pengetahuan gizi dengan tingkat konsumsi tiwul. Pada contoh di kota ditemukan hubungan yang nyata antara faktor jenjang pendidikan ibu (r,=-0,387, p<0,05), pendapatan perkapita (r,= - 0,583, p<O,OI) dan tingkat pengetahuan gizi (r,= -0,525, p<O,OI) dengan konsumsi tiwul, artinya semakin tinggi jenjang pendidikan ibu, pendapatan per kapita dan pengetahuan gizi, maka konsumsi tiwul akan semakin rendah. Hasil analisis Regresi pada contoh di kota menunjukkan bahwa pendapatan per kapita berpengaruh negatif (13=-0,343; P=0,041) terhadap konsumsi tiwul. Jenjang pendidikan ibu juga memberikan pengaruh negatif terhadap konsumsi tiwul (13=-0,407; P=0,017) R'=0,335. Semakin tinggi pendapatan per kapita dan jenjang pendidikan ibu, maka konsumsi tiwul akan semakin rendah.
Collections
- UT - Nutrition Science [3184]

