Karakterisasi Profil Asam Lemak Biji Pala Papua (Myristica argentea Warb)
Abstract
Pala merupakan salah satu komoditas ekspor yang penting karena Indonesia adalah negara
pengekspor biji dan fuli pala terbesar yang memasok 60% kebutuhan pala dunia (Nurdjanah, 2007).
Jenis pala yang diekspor salah satunya adalah pala papua (Myristica argentea Warb). Akan tetapi
penelitian terhadap pala papua belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penelitian mengenai profil
asam lemak biji pala papua sangat penting dilakukan untuk mengetahui potensi pengembangan bahan
pangan ini.
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian adalah biji pala papua umur petik 4 bulan dan
8 bulan. Penelitian pendahuluan yang dilakukan terdiri dari persiapan sampel, analisis kadar air
metode azeotropik, analisis kadar lemak metode Soxhlet dan ekstraksi lemak menggunakan hidrolic
press dengan perlakuan panas dan tanpa panas. Selanjutnya dilakukan penelitian utama yang terdiri
dari tahap metilasi asam lemak, analisis menggunakan gas cromatography (GC) dengan detektor
Flame Ionisation Detector (FID), dan penentuan jenis asam lemak.
Hasil pengamatan fisik menunjukkan bahwa pala papua memiliki daging buah yang tebal
yaitu hingga 90% dari bobot buah pala sedangkan bagian bijinya sekitar 7.57% (biji tua). Buah pala
papua memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan buah pala banda.
Perbedaan umur petik buah sangat berpengaruh terhadap rendemen lemak yang diperoleh.
Biji pala papua umur petik 4 bulan memiliki kadar air 74.84% (basis basah) dan kadar lemak 19.84%
(basis kering), sedangkan biji pala papua umur petik 8 bulan mempunyai kandungan air sebanyak
19.26% (basis basah) dan kandungan lemak 23.47% (basis kering). Berdasarkan hal tersebut, biji pala
yang tepat untuk dioptimalkan sebagai sumber lemak adalah biji pala papua umur petik 8 bulan.
Hasil ekstraksi lemak menunjukkan bahwa rendemen lemak yang tinggi diperoleh dari
ekstraksi lemak menggunakan metode hidrolic press dengan perlakuan panas. Rendemen lemak yang
dihasilkan dari ekstraksi tanpa perlakuan panas adalah 0.82% pada biji umur petik 4 bulan dan 2.32%
pada biji umur petik 8 bulan, sedangkan rendemen lemak yang diperoleh dari ekstraksi dengan
perlakuan panas adalah 14.95% pada biji umur petik 4 bulan dan 22.02% pada biji umur petik 8
bulan. Oleh karena lemak biji pala papua dapat terekstrak lebih banyak dengan metode hidrolic press
dengan perlakuan panas, maka untuk analisis selanjutnya pada penelitian utama digunakan lemak
hasil ekstraksi hidrolic press dengan perlakuan panas.
Berdasarkan analisis komponen asam lemak menggunakan GC, asam lemak yang paling
dominan pada biji pala papua adalah asam miristat yaitu sebesar 69.61% (biji umur petik 4 bulan) dan
79.09% (biji umur petik 8 bulan). Oleh karena kandungan asam miristat yang sangat tinggi pada biji
pala papua, maka pengembangan biji pala papua dapat diarahkan ke sektor isolasi asam miristat.
