| dc.description.abstract | Budidaya jamur merupakan salah satu usaha untuk menghasilkan makanan berprotein tinggi dengan memanfaatan limbah pertanian. Keuntungan lain dari budidaya jamur antara lain memecahkan masalah lingkungan, mengembangkan agroindustri dan menciptakan lapangan pekerjaan. Usaha ini cocok dikembangkan di daerah pedesaan karena teknologi yang digunakan relatif sederhana, bersifat padat karya dan dapat menggunakan berbagai jenis limbah seperti serbuk gergaji.
Salah satu jenis jamur yang banyak di budidayakan ialah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang mengandung protein 19.8%, lemak 2.8%, karbohidrat 62.7%, serat 13% dan abu 9.3% serta sejumlah vitamin seperti tiamin, niasin, dan asam askorbat (Rajaratman, 1982). Di Indonesia, budidaya jamur tiram putih pada umumnya dilakukan dengan menggunakan substrat serbuk gergaji. Sejak tahun 1982, C.V. Tunas Sari Bogor sudah membudidayakan jamur tiram putih secara komersial. Budidaya dilakukan dalam kantung-kantung plastik dengan bahan utama substratnya yaitu serbuk gergaji kayu, dedak, kapur (CaCO3), gips (CaSO4) dan kotoran ayam. Masalah utama yang dihadapi dalam budidaya jamur tiram putih ialah adanya kontaminasi oleh beberapa kapang dan lalat buah..
Kegiatan magang di C.V. Tunas Sari ini dibagi menjadi dua yaitu, kegiatan umum yang bertujuan untuk mempelajari budidaya jamur tiram putih dan kegiatan khusus yang bertujuan mengidentifikasi dan mengamati perkembangan kapang kontaminan dalam proses budidaya dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan jamur tiram putih.
Hasil pengamatan diperoleh bahwa suhu yang baik untuk pertumbuhan basidioma yaitu 22-28°C dengan kelembaban 70-80% dan tingkat keasaman substrat berkisar 5.5-6.5. Persentase kontaminasi mencapai 55.4% dari 703 kantung substrat yang diamati, dimana 26.5% terkontaminasi oleh kapang Neurospora sitophila dan 28.9% oleh kapang lain seperti Rhizopus sp., Mucor sp., dan Aspergillus niger. Waktu munculnya kontaminan bervariasi, dari 121 kantung yang terkontaminasi 44.4% terkontaminasi pada lima hari pertama dan 24.1% pada lima hari berikutnya. Perkembangan serangan kapang oncom merah pada permukaan substrat meluas dengan cepat selama 10 hari pertama masa inkubasi. Pada beberapa substrat luas serangan kapang oncom merah mencapai 30% dari luas permukaan substrat, tetapi pada akhir masa inkubasi luas permukaan substrat yang masih terkontaminasi kapang oncom merah tinggal 1-6%. Daerah penyebaran miselium kapang oncom merah pada permukaan substrat terjadi di sekitar leher kantung, bagian tengah atau bagian dasar kantung. Hal yang unik dari jamur tiram putih yaitu kemampuan jamur ini mendominasi substrat yang terkontaminasi oleh kapang oncom merah, dari 186 kantung yang terkontaminasi 183 kantung berhasil di dominasi kembali oleh jamur tiram putih. Sedangkan jamur tiram putih yang terkontaminasi oleh kapang seperti Aspergilus niger, Rhizopus sp., dan Mucor sp. pada umumnya sulit mendominasi kembali substrat. | id |