Show simple item record

dc.contributor.advisorAndarwulan, Nuri
dc.contributor.authorRahayuni, Arintina
dc.date.accessioned2024-02-15T03:51:50Z
dc.date.available2024-02-15T03:51:50Z
dc.date.issued1999
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/138647
dc.description.abstractFortifikasi garam merupakan kebijaksanaan pemerintah sebagai salah satu upaya penanggulangan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium), tetapi ada kendala dalam pelaksanaannya yaitu demikian besarnya kerusakan atau degradasi kadar yodium yang terkandung dalam garam karena pengaruh pemasakan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pemasakan terhadap kadar yodium pada garam fortifikasi yang ditambahkan pada masakan. Garam fortifikasi ditambahkan pada enam jenis masakan sebelum dan beberapa saat setelah selesai diolah. Fortifikasi dilakukan terhadap garam hasil pemurnian pabrik sehingga diperoleh kadar 50 ppm. Enam golongan masakan tersebut adalah tipe asam (sayur asam), bersantan dimasak tidak lama (soto santan), bersantan dimasak sampai kering (rerdang), digoreng (tahu goreng), diolah tidak lama (tumis kangkung), dan diolah lama lebih dari 10 jam (gudeg). Pada keenam jenis masakan tersebut dilakukan analisis kadar yodium dan nilai pH. Pengukuran kondisi pengolahan yang mempengaruhi kestabilan yodium dilakukan untuk suhu dan lama pemasakan. Data kadar lemak masakan diperoleh dari Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia (1995). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan kadar yodium pada enam jenis masakan yang ditambah garam fortifikasi beberapa saat setelah diolah lebih kecil dibanding perlakuan penambahan garam fortifikasi sebelum masakan diolah, berturut-turut untuk sayur asam 56,63% dan 39,33%, soto santan 39,48% dan 30,19%, rendang 58,94% dan 37,48%, tahu goreng 44,29% dan 16,77%, tumis kangkung 27,53% dan 20,25%, serta gudeg 70,35% dan 29,13%, Pengaruh pH diduga tidak berkolerasi dengan penurunan kadar yodium, pH masakan terendah sayur asam (4,1) persentase penyelamatannya 17,30% dan pH masakan tertinggi gudeg (6,7) persentase penyelamatannya 41,22%. Kadar lemak diduga tidak menunjukkan korelasi dengan penurunan kadar yodium. Kadar lemak terendah pada sayur asam (0,6%) persentase penyelamatannya 17,30% dan kadar lemak tertinggi pada soto santan (8,8%) persentase penyelamatannya 8,29%, Persentase penyelamatan adalah besarnya penurunan yodium pada penambahan garam fortifikasi sesaat sesudah pengolahan dikurangi besarnya penambahan sebelum pengolahan. Kondisi pengolahan yaitu suhu dan lama pemasakan kemungkinan berpengaruh nyata terhadap kestabilan kadar yodium pada masakan. Penurunan kadar yodium terbesar terjadi pada masakan gudeg yang ditambah garam sebelum diolah (70,35%) dan terkecil pada masakan tumis kangkung setelah diolah (20,25%). Sebagai kesimpulan, penambahan garam pada masakan beberapa saat setelah diolah menyelamatkan yodium sebesar rata-rata 20,70%. Hasil penelitian ini merekomendasikan penambahan garam beryodium pada masakan beberapa saat setelah diolah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKestabilan yodium dalam garam pada berbagai masakanid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record