Show simple item record

dc.contributor.advisorRahayu, Winiati Pudji
dc.contributor.authorKholid, Agus
dc.date.accessioned2024-02-13T01:56:24Z
dc.date.available2024-02-13T01:56:24Z
dc.date.issued2000
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/138353
dc.description.abstractRimpang lengkuas telah dimanfaatkan sebagai bumbu dan bahan ramuan obat tradisional di beberapa negara Asia. Masakan rendang, rawon, gulai, kari, opor, dan ayam goreng merupakan contoh masakan yang menggunakan rimpang lengkuas sebagai bumbu. Dalam dunia pengobatan, rimpang lengkuas digunakan untuk mengobati bronkitis, panu, bercak-bercak kulit, luka, memperkuat lambung dan memperbaiki pencernaan. Penggunaan ekstrak lengkuas seperti oleoresin dan minyak atsiri belum banyak dikaji dibandingkan famili Zingiberaceae lainnya seperti jahe. Penelitian ini bertujuan mempelajari teknik ekstraksi komponen antimikroba dari rimpang lengkuas serta mempelajari pengaruh umur dan waktu ekstraksi terhadap rendemen dan aktivitas antimikroba. Diharapkan dengan penelitian ini diperoleh ekstrak lengkuas yang efektif untuk pengawetan makanan. Tahap penelitian yang dilakukan adalah pembuatan bubuk lengkuas, pemilihan metode ekstraksi, pengoptimalan teknik ekstraksi dan analisis ekstrak. Dalam pemilihan metode ekstraksi diuji coba 3 metode yakni metode perkolasi dengan pelarut kloroform, perkolasi dengan pelarut kloroform secara berulang, dan metode perkolasi dengan pelarut air. Metode terbaik adalah yang menghasilkan rendemen dan atau aktivitas antimikroba tertinggi. Dari metode terbaik dilakukan optimalisasi teknik ekstraksi dengan mempertimbangkan faktor umur panen lengkuas 4 dan 11 bulan dan waktu ekstraksi 6, 12, 24, dan 48 jam. Rancangan percobaan yang digunakan pada optimalisasi teknik ekstraksi adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 kali ulangan. Analisis ekstrak lengkuas meliputi rendemen dan aktivitas antimikroba pada 3 bakteri uji Bacillus cereus, Staphylococcus aureus dan Vibrio cholerae serta dilakukan analisis residu pelarut pada ekstrak teraktif. Hasil penelitian menunjukkan metode yang terbaik dari 3 metode yang diuji coba adalah metode perkolasi dengan pelarut kloroform secara berulang. Dengan metode ini dihasilkan rendemen tertinggi sebesar 5,56% dan aktivitas antimikroba 23 mm atau 30 mm/gram bubuk (berat kering). Pada tahap optimalisasi, ekstrak lengkuas yang dihasilkan berbentuk semi padat berwarna kuning kecoklatan. Umur lengkuas dan waktu ekstraksi berpengaruh nyata terhadap rendemen. Pada lengkuas umur 11 bulan menghasilkan rendemen rata-rata 0,96% (berat kering) lebih tinggi dari lengkuas umur 4 bulan yang menghasilkan rendemen 0,87% (berat kering). Waktu ekstraksi terbaik yang menghasilkan rendemen tertinggi adalah 48 jam dengan rendemen ekstrak sebesar 1,07%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleTeknik ekstraksi komponen antimikroba dari rimpang lengkuas (Alpinia galanga L. Swartz)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record