Show simple item record

dc.contributor.advisorKoswara, Sutrisno
dc.contributor.advisorJayanegara, Anuraga
dc.contributor.authorMaulina, Kania Dewi
dc.date.accessioned2023-11-20T06:22:19Z
dc.date.available2023-11-20T06:22:19Z
dc.date.issued2023-11-20
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/132472
dc.descriptionSaya ingin mengajukan pembatasan publikasi dikarenakan skripsi saya akan dipublikasikan sebagai jurnalid
dc.description.abstractBiji kakao (Theobroma cacao L.) sebagai bahan baku utama dari produk coklat mengandung senyawa polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi kapasitas antioksidan pada biji kakao, diantaranya adalah jenis biji, asal daerah kultivasi dan proses fermentasi. Variasi data yang menyebabkan belum adanya kesimpulan mengenai jenis biji, asal daerah kultivasi dan proses fermentasi yang menghasilkan biji kakao dengan kapasitas antioksidan paling baik merupakan alasan yang tepat untuk menjadikan metaanalisis sebagai metode yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh proses fermentasi, jenis dan asal biji kakao yang memiliki kapasitas antioksidan paling tinggi melalui metode meta-analisis. Tahapan meta-analisis dalam penelitian ini dilakukan melalui delapan tahapan, yaitu 1) perumusan pertanyaan penelitian, 2) penentuan kriteria inklusi, 3) pencarian literatur yang sesuai, 4) penyeleksian literatur berdasarkan kualitas dan kriteria yang telah ditentukan, 5) pembuatan database, 6) ekstraksi data, 7) analisis statistik, dan 8) pelaporan interpretasi hasil meta-analisis. Pencarian dan penyeleksian literatur dilakukan dengan mengacu pada metode PRISMA. Jenis biji kakao, negara asal, waktu dan tipe fermentasi berpengaruh terhadap perubahan kapasitas antioksidan biji kakao. Biji kakao jenis Forastero memiliki kapasitas antioksidan yang paling tinggi berdasarkan uji ABTS. Negara Brazil menghasilkan biji kakao dengan kapasitas antioksidan paling tinggi berdasarkan uji ABTS. Waktu fermentasi 24-48 jam adalah batas waktu yang tepat untuk memberhentikan fermentasi biji kakao apabila ingin mempertahankan kapasitas antioksidannya. Tipe fermentasi spontan menghasilkan biji kakao dengan kapasitas antioksidan yang lebih tinggi dari biji kakao yang difermentasi secara tidak spontan pada uji ABTS. Pelaksanaan proses fermentasi yang disarankan untuk mempertahankan kapasitasid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleMeta Analisis Pengaruh Proses Fermentasi, Jenis dan Asal Biji Kakao Terhadap Kapasitas Antioksidannya.id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordantioxidant capacityid
dc.subject.keywordcacao varietiesid
dc.subject.keywordcountry origin of cacaoid
dc.subject.keywordfermentation processid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record