Show simple item record

dc.contributor.advisorRahayu, Winiati Pudji
dc.contributor.authorYuniar, Kiki
dc.date.accessioned2023-11-15T23:47:46Z
dc.date.available2023-11-15T23:47:46Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/132427
dc.description.abstractKeamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia (Undang- Undang RI No. 7 Tahun 1996). Upaya ini perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik dari produsen, konsumen maupun pemerintah Untuk itu upaya- upaya peningkatan pengetahuan keamanan pangan menjadi sangat penting bagi produsen maupun konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan produsen mie basah terhadap keamanan pangan serta kondisi Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) mie basah di kota Bogor. Selain itu untuk mencari alternatif penggunaan pewarna dan pengawet yang aman pada mie basah. Industri rumah tangga yang diteliti sebanyak delapan industri yang tersebar di kota Bogor. Produsen mie basah umurnya berkisar 30-50 tahun dengan tingkat pendidikan umumnya tidak tamat SD (37,5%). Hanya 1 produsen yang memiliki tingkat pendidikan SLTA. Berdasarkan penghasilan per hari sebanyak 37.5% produsen berpenghasilan Rp.50.000,- dan 12.5% memiliki penghasilan Rp. 150.000,- <x Rp.250.000,-. Dari hasil survey didapatkan hanya 50% produsen yang menggunakan pengawet asam benzoat dengan konsentrasi berkisar 0.5-1 g/kg. Sebanyak 3 industri menggunakan pewarna dari jenis tartrazin satu diantaranya tartrazin bermerk cap Koepoe-Koepoe (MD.263109043128), dan satu industri menggunakan pewarna kuning jenis lemon yellow (MD.263109031213). Dari hasil survei, tidak ditemukan industri yang menggunakan bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan. Seluruh responden belum pernah mengikuti pelatihan Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB- IRT), oleh karena itu kondisi sanitasi kedelapan industri kurang baik. Tempat industri terganggu oleh binatang, namun tidak ada upaya untuk mencegah masuknya binatang ke tempat produksi. Selain itu, 75% dari seluruh industri, pekerja di bagian produksi mencuci tangan hanya sebelum produksi. Sanitasi peralatan pun kurang diperhatikan, karena 87.5% industri membersihkan peralatannya tidak dengan air atau sabun, dan satu industri tidak membersihkan peralatan. Hal ini kemungkinan terkait dengan tingkat pendidikan produsen yang relatif rendah. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcMieid
dc.titleKondisi industri rumah tangga pangan serta aplikasi penggunaan pewarna dan pengawet pada mie basahid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record