| dc.contributor.advisor | Wulandari, Nur | |
| dc.contributor.advisor | Dewi, Retno Anggrina Khalistha | |
| dc.contributor.author | Amirullah, Aldi Fikri | |
| dc.date.accessioned | 2023-11-03T03:22:01Z | |
| dc.date.available | 2023-11-03T03:22:01Z | |
| dc.date.issued | 2023 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/130357 | |
| dc.description.abstract | Sertifikasi Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah
Tangga (SPP-IRT) merupakan izin edar bagi pangan hasil industri rumah tangga.
Dengan adanya pedoman baru yang diinisiasi oleh terbitnya Undang-Undang Cipta
Kerja, Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan
Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) selaku pemangku kewajiban, mengalami kendala
dalam beradaptasi pada alur penerbitan yang baru. Provinsi Jawa Tengah menjadi
objek penelitian karena memiliki IRTP terbanyak ketiga di Indonesia. Penelitian ini
bertujuan untuk meninjau kesesuaian penerbitan yang telah dilaksanakan di
Provinsi Jawa Tengah, serta mengetahui hambatan masing-masing daerah dalam
melaksanakan penerbitan yang sesuai dengan pedoman baru. Pada penelitian ini,
peneliti di bawah koordinasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
melakukan survei dengan responden masing-masing satu orang perwakilan petugas
Dinkes dan DPMPTSP dari setiap daerah. Metode analisis yang digunakan adalah
analisis kuantitatif untuk data survei Dinkes, dan analisis deskriptif bagi data survei
DPMPTSP. Dinkes di Provinsi Jawa Tengah telah memenuhi kriteria utama sebesar
86,9% dan kriteria tambahan sebesar 79,3%, dengan 15 Dinkes termasuk dalam
kriteria sesuai dan 14 Dinkes termasuk dalam kriteria kurang sesuai. Hambatan
yang dialami Dinkes di antaranya, kurangnya sumber daya manusia, minimnya
adaptasi dan pemahaman pada sistem online SPP-IRT, kurangnya waktu untuk
melaksanakan proses pengawasan pada produk IRTP, dan tidak tersedianya
anggaran untuk melaksanakan kegiatan pada proses pemenuhan komitmen SPPIRT. Hambatan yang dialami DPMPTSP di antaranya rendahnya jumlah
kepemilikan akun pada sistem SPP-IRT karena kurangnya pemahaman pada
pedoman baru yang berlaku seperti proses penerbitan dan pengawasan akan
dilakukan melalui sistem SPP-IRT. Pengawasan yang dilaksanakan juga belum
sesuai dengan ketentuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Berdasarkan hasil tersebut, BPOM dapat melakukan beberapa upaya untuk
meningkatkan kesesuaian implementasi penerbitan SPP-IRT dengan perubahan
metode pendampingan pengoperasian sistem SPP-IRT, penerbitan buku pedoman
pengoperasian sistem SPP-IRT, pemerataan sumber daya manusia, dan peningkatan
kualitas sumber daya manusia. | id |
| dc.description.abstract | Certification for Fulfillment of Home Industry Processed Food Production
Commitments (SPP-IRT) is a distribution permit for food produced by home
industries. With the new guidelines initiated by the issuance of the Job Creation
Law, the Health Office (Dinkes) and the One Door Services and Investment Service
Office (DPMPTSP) as the responsibility holders, experienced problems in adapting
to the new issuance flow. Central Java Province is the object of research because
it has the third largest IRTP in Indonesia. This research aims to review the
conformity of SPP-IRT issuance that have been implemented in Central Java
Province and determine the obstacles each region faces in implementing SPP-IRT
issuance that comply with the new guidelines. In this research, researcher under
the coordination of the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM) conducted a
survey with one respondent each representing Health Office and DPMPTSP
officers from each region. The analytical method used is quantitative analysis for
Health Office survey data, and descriptive analysis for DPMPTSP survey data.
Health offices in Central Java Province have met the main criteria of 86.9% and
additional criteria of 79.3%, with 15 health offices included in the appropriate
criteria and 14 health offices included in the less appropriate criteria. Obstacles
experienced by the Health Office include lack of human resources, lack of
adaptation and understanding of the SPP-IRT online system, lack of time to carry
out the monitoring process for IRTP products, and unavailability of budget to carry
out activities in the process of fulfilling SPP-IRT commitments. Obstacles
experienced by DPMPTSP include the low number of account owners in the SPPIRT system due to a lack of understanding of the new guidelines that apply, such as
the issuance and supervision process will be carried out through the SPP-IRT
system. The supervision carried out is also not in accordance with the provisions
of the Investment Coordinating Board (BKPM). Based on these results, BPOM can
make several efforts to improve the suitability of the implementation of SPP-IRT
issuance by changing methods for assisting the operation of the SPP-IRT system,
issuance manuals for operating the SPP-IRT system, equalizing human resources,
and improving the quality of human resources. | id |
| dc.language.iso | id | id |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Kesesuaian Implementasi Penerbitan SPP-IRT oleh Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah | id |
| dc.type | Undergraduate Thesis | id |
| dc.subject.keyword | District Health Office | id |
| dc.subject.keyword | District Invesment and One Door Integrated Services Office | id |
| dc.subject.keyword | Food Safety | id |
| dc.subject.keyword | Central Java Province | id |
| dc.subject.keyword | SPP-IRT | id |