Show simple item record

dc.contributor.advisorSitanggang, Azis Boing
dc.contributor.authorKristianto, Estella Leonora
dc.date.accessioned2020-12-24T00:10:36Z
dc.date.available2020-12-24T00:10:36Z
dc.date.issued2020
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104379
dc.description.abstractPangan olahan merupakan produk yang dibuat dari bahan pangan segar dan melalui teknologi pengolahan tertentu. Sektor industri pangan memberi dampak positif untuk perekonomian nasional Indonesia serta mendatangkan devisa negara dari kegiatan ekspor.Menurut data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik, nilai ekspor industri pangan Indonesia selalu menempati posisi tertinggi untuk sektor non migas setiap tahunnya.Indonesia banyak melakukan kegiatan ekspor ke beberapa negara, diantaranya Amerika Serikat dan Uni Eropa sebagai negara tujuan utama.Kasus penolakan ekspor terhadap Indonesia masih sering terjadi, hal ini disebabkan adanya temuan yang tidak sesuai dengan penerapan standar dari negara tujuan.Keamanan pangan menjadi aspek yang paling diperhatikan negara untuk perlindungan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sistem importasi yang dijalankan Amerika Serikat dan Uni Eropa, mengetahui penyebab penolakan ekspor pangan olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta jenis produk yang paling dominan selama tahun 2010-2019. Sistem importasi ke Amerika Serikat melibatkan FDA, sedangkan untuk Uni Eropa melibatkan European Comission serta RASFF untuk memberitakan informasi penolakan produk ekspor yang beredar di pasaran. Analisis data sekunder mengenai penolakan ekspor pangan olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa ditinjau dari kelompok periode tahun, kategori pangan dengan standar BPOM, dan alasan penolakan. Sepanjang tahun 2010-2019, Indonesia mendapatkan 127 kasus penolakan pangan olahan di Amerika Serikat dan 27 kasus penolakan pangan olahan di Uni Eropa. Analisis lanjutan dengan diagram Pareto menunjukkan penolakan ekspor ke Amerika Serikat terbanyak diperoleh produk bumbu masak pasta dengan alasan masalah registrasi perusahaan dan jadwal proses produksi. Untuk kasus di Uni Eropa, penolakan ekspor terbanyak terjadi pada produk kelapa parut kering dengan alasan kontaminasi Streptococcus fekal dan Salmonella yang melebihi batas maksimumnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi masalah utama penolakan dilihat dari diagram Ishikawa adalah manusia, bahan, mesin, metode, lingkungan, dan manajemen.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcFood Science and Technologyid
dc.titlePenolakan Ekspor Pangan Olahan Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa Tahun 2010-2019 dan Analisis Faktor Penyebabnyaid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordAmerika Serikatid
dc.subject.keywordkeamanan panganid
dc.subject.keywordpangan olahanid
dc.subject.keywordpenolakan eksporid
dc.subject.keywordUni Eropaid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record