Show simple item record

dc.contributor.advisorHariyadi, Ratih Dewanti
dc.contributor.advisorPurnomo, Eko Hari
dc.contributor.authorHadiyanto, Juli
dc.date.accessioned2011-07-07T02:37:38Z
dc.date.available2011-07-07T02:37:38Z
dc.date.issued2011
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/47393
dc.description.abstractKeracunan pangan menjadi masalah serius bagi masyarakat Indonesia. Gejala keracunan pangan antara lain mual-mual, muntah, diare, berkeringat, menggigil, lesu, kram otot, pusing kepala dan demam. Selain itu, keracunan pangan ini juga menimbulkan kerugian seperti biaya rawat inap, hilangnya produktifitas kerja dan terbuangnya makanan secara sia-sia. Laporan tahunan BPOM tahun 2009 menunjukkan bahwa pada tahun tersebut di Indonesia telah terjadi 115 kejadian luar biasa (KLB) karena keracunan pangan. Salah satu penyebab keracunan terbesar berasal dari industri jasa boga yang mencapai 15,65%. Berdasarkan data BPOM kemungkinan Staphylococcus aureus adalah salah satu agen penyebab keracunan di Indonesia mengingat bakteri ini secara alami terdapat pada tubuh manusia dan dapat mengkontaminasi makanan yang diolah dengan kondisi sanitasi tidak cukup baik.en
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleKetahanan panas isolat lokal staphylococcus aureusen


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record