Kajian Potensi dan Permasalahan Pengembangan Ekspor Industri Kayu Lapis Indonesia
Abstract
Kayu lapis merupakan hasil utama hutan Indonesia yang merupakan penghasil devisa terbesar kedua bagi negara. Nalllun demikian industri perkayuan beiakangan ini banyak Illengalami pennasalahan. Keadaan ini juga dialami oleh industri kayu lapis yang sebelumnya scmpat mengalami perkembangan yang mengesankan. Kondisi pasar luar negeri yang cukup kelal dewasa ini ternyala membawa pengaruh yang tidak kecil bagi perkcl11bangan industri kayu lapis di dalam negeri. Selain itu. sikap protektif yang Illasih diterapkan oleh beberapa negara tlljuan ekspor yang juga menjadikan kOl11oditi ini memiliki day a saing yang kurang baik. Tujuan penelitian adalah melakukan kajian terhadap potensi dan peluang ekspor industri kayu lapis dan selain itu mengkaji laktor-faktor kekuatan. kelel11ahan. peluang dan tantangan dalam pengembangan ekspor kayu lapis Indonesia. Sebagai negara kedua dunia yang memiliki hutan terluas setelah Brazil. Indonesia pada dasrnya Illempunyai sUl11ber bahan baku untuk industri kayu olahan yang cukup besar. Luas hutan Indonesia menurut Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) tahun 1990 adalah 143 juta ha atau 74% dari luas daratan. Namun potensi tersebut belul11 dil11anfaatkan secara optimal. Dari sckitar 4000 spesies kayu lerdapal di hutan Indonesia. sal11pai saat ini yang baru diolah dan diperdagangkan sekitar 120 spesies. Industri kayu lapis di Indonesia dalam 12 tahun terakhir l11enunjukkan adanya perkembangan yang l11enggembirakan. Perkcl11bangan ini terlihat dari pcningkatan produksi yang terjadi sctiap tahunnya yaitu dengan rata-rata laju pertul11buhan sekitar 9,81 % per tahun dcngan pemantaatan kapasitas rata-rata sebesar 85,75':1., per tahun. Pertumbuhan produksi tertinggi dicapai pada tahun 1986 sebesar 28,10"1.,. Antara tahun 1986-1992. perkel11bangan produksi kayu lapis (crus Illenunjukkan kenaikan. Namun sejak tahun 1993 (ercatat hanya 4,38'% atau mcnurun sebesar 4,73"1., dibandingkan pertumbuhan lahun 1992 yang sebesar 8,75%. Tahun 1994 dan 1995 produksi kayu lapis industri mengalal11i penurunan masing-masing sebesar 10,52% dan 15,80%. Kondisi ini terjadi karena sejak tah,m 1990 industri kayu lapis dilllaslikkan ke dalam Dallar Negatif Investasi (DNI). sebagai upaya menjaga kelebihan produksi dalalll negeri. Sclain illl kondisi ini terjadi akihat tuntnnya harga plywood dan sulitnya suplai hahan baku dalalll negeri.

