Show simple item record

dc.contributor.advisorKumalasari, Nur Rochmah
dc.contributor.advisorSukria, Heri Ahmad
dc.contributor.advisorTiuria, Risa
dc.contributor.authorSiregar, Ahmad Husein
dc.date.accessioned2026-08-15T03:49:24Z
dc.date.available2026-08-15T03:49:24Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179314
dc.description.abstractInfeksi cacing merupakan salah satu kendala utama dalam produksi domba karena dapat menurunkan pertambahan bobot badan, menyebabkan anemia, bahkan kematian sehingga menimbulkan kerugian ekonomi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas daun sambung nyawa (Gynura procumbens) sebagai antelmintik terhadap performa pertumbuhan dan status fisiologi domba Garut. Penelitian meliputi persiapan bahan, pembuatan ekstrak daun sambung nyawa, pemeliharaan domba Garut, serta pengukuran parameter penelitian. Domba yang digunakan adalah domba Garut jantan berumur 8–12 bulan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pengelompokan berdasarkan tingkat infeksi cacing (ringan, sedang, dan berat) serta empat perlakuan, yaitu P1 = kontrol negatif, P2 = kontrol positif (Albendazole), P3 = ekstrak daun sambung nyawa 1% dari bahan kering pakan, dan P4 = tepung daun sambung nyawa 5% dari bahan kering pakan. Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, konsumsi nutrien, total telur tiap gram tinja (TTGT), total ookista tiap gram tinja (TOGT), frekuensi respirasi, denyut jantung, suhu rektal, skor FAMACHA, kadar hematokrit, pertambahan bobot badan, feed conversion ratio (FCR), body condition score (BCS), dan income over feed cost (IOFC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata (p < 0,05) terhadap kadar hematokrit dan body condition score. Pemberian ekstrak daun sambung nyawa 1% menghasilkan kadar hematokrit tertinggi (34,67%), diikuti tepung daun sambung nyawa 5% (33,33%), Albendazole (31,33%), dan kontrol negatif (29,00%). Perlakuan juga menunjukkan kecenderungan menurunkan total telur tiap gram tinja (TTGT) (p = 0,08). Pemberian ekstrak daun sambung nyawa 1% menurunkan TTGT dari 475,00 menjadi 216,67 butir g-1 tinja, sedangkan pemberian tepung daun sambung nyawa 5% menurunkan TTGT dari 625,00 menjadi 300,00 butir g-1 tinja. Pada perlakuan Albendazole, TTGT menurun dari 816,67 menjadi 416,67 butir g-1 tinja, sedangkan pada kontrol negatif meningkat dari 433,33 menjadi 683,33 butir g-1 tinja. Pemberian ekstrak daun sambung nyawa (Gynura procumbens) sebanyak 1% dari bahan kering pakan berpotensi menurunkan tingkat infeksi cacing, meningkatkan nilai hematokrit tanpa mengganggu status fisiologis, serta meningkatkan performa pertumbuhan domba Garut.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePeranan Antelmintik Daun Sambung Nyawa (Gynura procumbens) terhadap Performa dan Status Fisiologi Domba Garutid
dc.title.alternativeAnthelmintic Role of Gynura procumbens Leaf on the Performance and Physiological Status of Garut Sheep
dc.typeTesis
dc.subject.keywordantelmintik alamiid
dc.subject.keywordDomba Garutid
dc.subject.keywordHematokritid
dc.subject.keywordinfeksi cacingid
dc.subject.keywordsambung nyawaid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record