| dc.contributor.advisor | Sumertajaya, I Made | |
| dc.contributor.advisor | Angraini, Yenni | |
| dc.contributor.author | Cintani, Meavi | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-15T03:25:41Z | |
| dc.date.available | 2026-08-15T03:25:41Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179269 | |
| dc.description.abstract | Penggerombolan deret waktu terhadap data bulanan nilai ekspor pada 30
provinsi di Indonesia selama periode Januari 2013 hingga Maret 2025
menggunakan jarak Dynamic Time Warping (DTW) yang dikombinasikan dengan
Multidimensional Scaling (MDS) mampu merepresentasikan kemiripan pola
ekspor antarprovinsi dengan baik, yang ditunjukkan oleh nilai stress sebesar
0,0254. Berdasarkan evaluasi kualitas penggerombolan, metode Fuzzy C-Means
(FCM) menghasilkan kualitas gerombol yang lebih baik dibandingkan K-Medoids
dengan nilai Silhouette Score (SS) sebesar 0,63 dan Davies–Bouldin Index (DBI)
sebesar 0,57, sedangkan K-Medoids memperoleh SS sebesar 0,61 dan DBI sebesar
0,58. Meskipun kedua metode menghasilkan tiga gerombol dengan karakteristik
yang relatif serupa, terdapat perbedaan komposisi anggota pada beberapa provinsi,
seperti Riau dan Kepulauan Riau yang menunjukkan bahwa FCM lebih fleksibel
dalam mengelompokkan provinsi dengan karakteristik ekspor yang berada pada
batas antargerombol.
Pada tahap peramalan data empiris, performa model berbeda pada masing
masing metode penggerombolan. Hasil penggerombolan K-Medoids, model hybrid
menghasilkan nilai MAPE terendah pada Gerombol 1 sebesar 8,51%, dan
Gerombol 2 sebesar 4,53%, sedangkan pada Gerombol 3 model TCN memberikan
nilai MAPE terendah sebesar 11,18%. Sementara itu, pada hasil penggerombolan
FCM, model hybrid secara konsisten menghasilkan nilai MAPE terendah pada
seluruh gerombol, yaitu 5,69% pada Gerombol 1, 3,84% pada Gerombol 2, dan
5,15% pada Gerombol 3. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode
penggerombolan yang menghasilkan kualitas gerombol lebih baik juga cenderung
menghasilkan akurasi peramalan yang lebih baik. Pada penelitian ini, kombinasi
FCM dan model hybrid memberikan nilai MAPE yang paling rendah dan lebih
konsisten dibandingkan kombinasi metode lainnya pada data empiris.
Perbandingan antara data empiris yang mengandung anomali dan data tanpa
anomali menunjukkan bahwa keberadaan anomali berkaitan dengan peningkatan
galat peramalan. Meskipun proses pembersihan anomali tidak mengubah struktur
utama hubungan antarprovinsi, yang ditunjukkan oleh nilai stress MDS yang relatif
tetap, yaitu 0,0254 pada data empiris dan 0,0253 pada data tanpa anomali, akurasi
peramalan meningkat setelah anomali dihilangkan. Pada data tanpa anomali, model
hybrid secara konsisten menghasilkan nilai MAPE yang lebih rendah dibandingkan
ARIMA dan TCN pada kedua metode penggerombolan. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa setelah anomali dihilangkan, pola data menjadi lebih stabil
sehingga seluruh model menghasilkan nilai MAPE yang lebih rendah dibandingkan
pada data empiris.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan persentase dan kedalaman
anomali memengaruhi proses pengukuran kemiripan, reduksi dimensi, kualitas
penggerombolan, dan akurasi peramalan. Pada tahap pengukuran kemiripan,
peningkatan tingkat anomali menyebabkan nilai jarak DTW cenderung meningkat,
meskipun struktur umum kedekatan antarprovinsi masih relatif konsisten. Pada
tahap reduksi dimensi, nilai stress MDS juga meningkat seiring bertambahnya
persentase dan kedalaman anomali, yang menunjukkan penurunan kualitas
representasi data. Hasil Aligned Rank Transform ANOVA (ART-ANOVA)
menunjukkan bahwa persentase dan kedalaman anomali berpengaruh signifikan
terhadap performa DTW–MDS (p-value < 0,05). Selain itu, metode
penggerombolan, persentase anomali, dan kedalaman anomali juga berpengaruh
signifikan terhadap kualitas penggerombolan berdasarkan nilai SS (p-value < 0,05),
sedangkan seluruh interaksi antarfaktor tidak menunjukkan pengaruh yang
signifikan.
Pada evaluasi performa peramalan data simulasi, hasil ART-ANOVA
menunjukkan bahwa metode penggerombolan, model peramalan, persentase
anomali, dan kedalaman anomali berpengaruh signifikan terhadap nilai MAPE (p
value < 0,05). Berdasarkan hasil evaluasi kualitas penggerombolan pada data
empiris, FCM dipilih sebagai fokus analisis lanjutan karena menghasilkan kualitas
penggerombolan yang lebih baik dibandingkan K-Medoids. Hasil analisis pada
penggerombolan FCM menunjukkan bahwa faktor model peramalan, persentase
anomali, dan kedalaman anomali berpengaruh signifikan terhadap akurasi
peramalan, sedangkan seluruh interaksi antarfaktor tidak menunjukkan pengaruh
yang signifikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa metode penggerombolan,
model peramalan, serta karakteristik anomali masing-masing berkontribusi
terhadap perubahan akurasi peramalan.
Secara keseluruhan, metode FCM menghasilkan kualitas penggerombolan
yang lebih baik dibandingkan K-Medoids. Pada hasil penggerombolan tersebut,
model hybrid memberikan performa peramalan yang paling baik pada sebagian
besar kondisi dengan nilai MAPE yang lebih rendah dan lebih konsisten
dibandingkan model ARIMA maupun TCN. Temuan penelitian ini menunjukkan
bahwa pemilihan metode penggerombolan berbasis DTW dapat mendukung
diperolehnya hasil peramalan yang lebih akurat pada data deret waktu yang
mengandung anomali. Model yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk
melakukan peramalan nilai ekspor hingga 12 periode ke depan. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung penyusunan
proyeksi nilai ekspor sebagai dasar perumusan kebijakan perdagangan dan
pembangunan ekonomi nasional serta berkontribusi terhadap pencapaian
Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 8,9 dan 10 melalui
penyediaan informasi yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data. | |
| dc.description.abstract | Time series clustering of monthly export values from 30 provinces in Indonesia
covering the period from January 2013 to March 2025 was performed using Dynamic
Time Warping (DTW) combined with Multidimensional Scaling (MDS). The DTW
MDS approach successfully represented the similarity of export patterns among
provinces, as indicated by a low stress value of 0.0254. Based on the clustering
quality evaluation, the Fuzzy C-Means (FCM) method outperformed K-Medoids,
achieving a Silhouette Score (SS) of 0.63 and a Davies–Bouldin Index (DBI) of 0.57,
while K-Medoids obtained an SS of 0.61 and a DBI of 0.58. Although both methods
produced three clusters with relatively similar characteristics, differences in cluster
membership were observed for several provinces, including Riau and Riau Islands,
suggesting that FCM is more flexible in grouping provinces with export
characteristics located near cluster boundaries.
For the empirical data, forecasting performance varied across the clustering
methods. Under the K-Medoids clustering results, the hybrid model achieved the
lowest MAPE values for Cluster 1 (8.51%) and Cluster 2 (4.53%), whereas the TCN
model produced the lowest MAPE for Cluster 3 (11.18%). In contrast, under the
FCM clustering results, the hybrid model consistently produced the lowest MAPE
across all clusters, with values of 5.69%, 3.84%, and 5.15% for Clusters 1, 2, and 3,
respectively. These results indicate that better clustering quality tends to be
associated with better forecasting accuracy. In this study, the combination of FCM
and the hybrid model provided the lowest and most consistent MAPE values on the
empirical data.
A comparison between the empirical data containing anomalies and the
anomaly-free data showed that the presence of anomalies was associated with higher
forecasting errors. Although removing anomalies did not substantially change the
overall similarity structure among provinces, as reflected by nearly identical MDS
stress values of 0.0254 for the empirical data and 0.0253 for the anomaly-free data,
forecasting accuracy improved after anomaly removal. For the anomaly-free data,
the hybrid model consistently achieved lower MAPE values than both ARIMA and
TCN under the two clustering methods. This finding suggests that removing
anomalies resulted in more stable data patterns, leading to improved forecasting
performance.
The simulation results showed that increasing both the percentage and the
magnitude of anomalies affected similarity measurement, dimensionality reduction,
clustering quality, and forecasting accuracy. At the similarity measurement stage,
higher anomaly levels generally increased DTW distances, although the overall
similarity structure among provinces remained relatively stable. Likewise, MDS
stress values increased as the percentage and magnitude of anomalies became larger,
indicating a decline in the quality of the low-dimensional representation. The results
of the Aligned Rank Transform ANOVA (ART-ANOVA) revealed that both
anomaly percentage and anomaly magnitude had significant effects on DTW–MDS
performance (p < 0.05). In addition, the clustering method, anomaly percentage, and
anomaly magnitude significantly affected clustering quality based on the Silhouette
Score (p < 0.05), whereas none of the interaction effects among these factors were
statistically significant.
For the forecasting evaluation using simulated data, ART-ANOVA showed
that the clustering method, forecasting model, anomaly percentage, and anomaly
magnitude all had significant effects on MAPE values (p < 0.05). Since FCM
produced better clustering quality on the empirical data, it was selected for further
analysis. The results showed that forecasting model, anomaly percentage, and
anomaly magnitude significantly influenced forecasting accuracy, while none of the
interaction effects were statistically significant. These findings indicate that the
clustering method, forecasting model, and anomaly characteristics each contribute
independently to forecasting performance.
Overall, Fuzzy C-Means produced better clustering quality than K-Medoids.
Based on the FCM clustering results, the hybrid ARIMA–TCN model consistently
delivered better forecasting performance than the ARIMA and TCN models,
producing lower and more stable MAPE values under most conditions. These
findings suggest that selecting an appropriate DTW-based clustering method can
improve forecasting accuracy for time series data containing anomalies. The final
model was then used to forecast export values for the following 12 periods. It is
expected that the proposed approach can serve as an alternative tool for supporting
export value projections to assist trade policy formulation and national economic
development planning. In addition, this study contributes to the achievement of the
Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 8 (Decent Work and
Economic Growth), by providing data-driven information to support evidence-based
decision-making. | |
| dc.description.sponsorship | Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Analisis Kinerja Penggerombolan Dynamic Time Warping pada Peramalan Data Deret Waktu dengan Anomali Titik Menggunakan ARIMA, TCN, dan Hybrid. | id |
| dc.title.alternative | Performance Analysis of Dynamic Time Warping-Based Clustering in Time Series Forecasting with Point Anomalies Using ARIMA, TCN, and Hybrid Models | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Dynamic Time Warping | id |
| dc.subject.keyword | fuzzy c-means | id |
| dc.subject.keyword | hybrid ARIMA-TCN | id |
| dc.subject.keyword | data anomali | id |
| dc.subject.keyword | peramalan deret waktu | id |
| dc.subtype | Theses | |