| dc.description.abstract | Minyak ikan makarel dan kurisi kasar dari hasil samping industri penepungan dan surimi memiliki kualitas rendah sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk pangan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum proses bleaching pada pemurnian minyak ikan makarel dan kurisi menggunakan response surface methodology (RSM) dengan desain central composite design (CCD). Faktor yang diuji meliputi konsentrasi Magnesol XL dan waktu adsorpsi, sedangkan respon yang diamati adalah asam lemak bebas (FFA), bilangan peroksida (PV), nilai anisidin (p-AnV), dan total oksidasi (Totox). Kondisi optimum diperoleh pada konsentrasi Magnesol XL 5% dan waktu adsorpsi 20 menit. Pada kondisi tersebut, minyak ikan makarel memiliki nilai FFA 1,41%, PV 4,50 mEq/kg, p-AnV 6,69 mEq/kg, dan total oksidasi 15,69 mEq/kg, sedangkan minyak ikan kurisi memiliki nilai FFA 1,25%, PV 5,0 mEq/kg, p-AnV 4,05 mEq/kg, dan total oksidasi 14,05 mEq/kg. Seluruh parameter oksidasi telah memenuhi standar International Fish Oil Standards (IFOS). Analisis sifat minyak meliputi profil asam lemak, rendemen, densitas, viskositas, dan warna menunjukkan adanya perbedaan karakteristik fisik dan komposisi antara minyak ikan makarel dan kurisi yang berpotensi memengaruhi mutu minyak yang dihasilkan. | |