Perancangan Sistem Pengendalian Mutu yang Terstruktur dengan menggunakan DMAIC Six Sigma Pada PT XYZ
Abstract
PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur pangan yang memproduksi bolu
lapis berbahan dasar talas. Tingginya skala produksi menimbulkan tantangan dalam
menjaga konsistensi kualitas, sehingga proyek ini bertujuan mengidentifikasi jenis
cacat, menganalisis penyebabnya, serta merumuskan solusi pengendalian mutu
menggunakan metodologi Six Sigma DMAIC. Tahap Define melalui diagram
Pareto mengidentifikasi dua Critical to Quality (CTQ), yaitu tinggi produk kurang
dari 4 cm (41,61%) dan tekstur kering (30,20%), yang secara kumulatif
menyumbang sekitar tiga perempat total kecacatan. Tahap Measure menunjukkan
proses berada dalam kondisi terkendali dengan rata-rata level sigma 3,75 dan
DPMO berkisar 7.575,76 hingga 18.830,13. Tahap Analyze melalui fishbone
diagram mengungkapkan bahwa akar masalah utama adalah belum adanya
standarisasi toleransi gramasi pada depositor dan sistem pengawasan suhu steam
tunnel. Pada tahap Improve, Solution Selection Matrix yang dipadukan dengan
Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) menghasilkan dua solusi prioritas, yaitu
standarisasi depositor dan pengawasan suhu proses produksi, yang selanjutnya
dijabarkan dalam rencana tindakan 5W+1H pada tahap Control. Proyek ini
diharapkan menjadi acuan perusahaan dalam menekan tingkat kecacatan dan
meningkatkan kapabilitas proses produksi secara berkelanjutan. PT XYZ is a food manufacturing company producing a taro-based layered
sponge cake as its flagship product. The large production scale and high market
demand present challenges in maintaining product quality consistency,
necessitating a structured, data-driven quality control system using the Six Sigma
DMAIC methodology. Define stage, using a Pareto diagram, identified two Critical
to Quality (CTQ) characteristics: product height below 4 cm (41.61%) and dry
texture (30.20%), which together accounted for approximately three-quarters of
total defects. The Measure stage confirmed the process was statistically in-control,
with an average sigma level of 3.75 and DPMO ranging from 7,575.76 to 18,830.13.
Fishbone diagram analysis in the Analyze stage revealed that the primary root
causes were the absence of standardized weight tolerance for the depositor and
inconsistent temperature monitoring in the steam tunnel. Through a Solution
Selection Matrix combined with the Exponential Comparison Method (ECM) in the
Improve stage, two priority solutions were selected: depositor standardization and
process temperature monitoring, which were further elaborated into a 5W+1H
action plan in the Control stage. This research is expected to serve as a reference
for reducing product defect rates and continuously improving production process
capability.

