| dc.description.abstract | Kecamatan Ciwidey merupakan sentra kopi arabika di Kabupaten Bandung,
namun potensi produksi belum proposional diterima dengan adil di tingkat petani,
dimana petani yang menjual kopi dalam bentuk cherry hanya menerima distribusi
marjin sebesar 7,7 persen dan aktor hilir seperti eksportir mendapatkan margin
tertinggi sebesar 26,8 persen. Hal ini diperkuat dengan adanya kesenjangan harga
kopi di tingkat produsen dan konsumen serta distribusi nilai tambah yang tidak
merata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran
pemasaran, efisiensi pemasaran, dan nilai tambah kopi arabika di Kecamatan
Ciwidey. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Data
penelitian diperoleh dari hasil observasi, wawancara menggunakan kuesioner serta
data pendukung dari instansi terkait. Hasil penelitian menujukan terdapat dua pola
pemasaran yaitu, pemasaran kopi arabika specialty yang terdiri dari dua saluran
pemasaran dan pemasaran kopi arabika reguler yang terdiri dari tujuh saluran. Pada
saluran pemasaran spesialty seluruhnya telah efisien. Sementara itu, pada saluran
pemasaran kopi arabika reguler saluran tiga, empat, lima dan enam telah efisien,
sedangkan saluran tujuh, delapan, dan sembilan belum efisien. Secara umum
metode pengolahan specialty membentuk nilai tambah yang lebih tinggi
dibandingkan dengan metode pengolahan reguler. | |
| dc.description.abstract | Ciwidey District is a center for Arabica coffee in Bandung Regency, but the
production potential hasn't been fairly received at the farmer level, where farmers
selling coffee as cherries only get a margin distribution of 7.7 percent, while
downstream actors like exporters get the highest margin at 26.8 percent. This is
reinforced by the gap in coffee prices between producers and consumers, as well as
uneven value-added distribution. Therefore, this study aims to analyze the
marketing channels, marketing efficiency, and value addition of Arabica coffee in
Ciwidey District. The methods used are qualitative and quantitative analysis.
Research data was obtained from observations, interviews using questionnaires, and
supporting data from related agencies. The research results show that there are two
marketing patterns, namely, specialty Arabica coffee marketing, which consists of
two marketing channels, and regular Arabica coffee marketing, which consists of
seven channels. All the specialty marketing channels are already efficient.
Meanwhile, in the regular Arabica coffee marketing channels, channels three, four,
five, and six are efficient, while channels seven, eight, and nine are not efficient yet.
Overall, the specialty processing method creates higher added value compared to
the regular processing method. | |