Formulasi Muffin dengan Substitusi Tepung Bayam Merah dan Buah Naga sebagai Alternatif Selingan Remaja Anemia
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
ZAHRAN, MUHAMMAD AIMAR
Dianah, Rosyda
Metadata
Show full item recordAbstract
Anemia masih menjadi masalah gizi pada remaja sehingga diperlukan pangan selingan kaya zat besi dengan daya terima yang baik. Tepung bayam merah mengandung zat besi, sedangkan buah naga mengandung vitamin C yang berperan dalam meningkatkan penyerapan zat besi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan muffin dengan substitusi tepung bayam merah dan buah naga sebagai alternatif pangan selingan untuk mendukung pencegahan anemia pada remaja. Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri atas tiga formulasi, yaitu F1 (10% tepung bayam merah + 10% buah naga), F2 (20% tepung bayam merah + 20% buah naga), dan F3 (30% tepung bayam merah + 30% buah naga). Uji organoleptik dilakukan terhadap 126 panelis semi-terlatih, kemudian data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan uji lanjutan Mann–Whitney. Formula F1 merupakan formula terpilih dengan kandungan energi 298,7 kkal, protein 8,18%, lemak 9,2%, karbohidrat 45,8%, kadar air 33,3%, kadar abu 3,51%, dan besi (Fe) sebesar 7,8. Anemia remains a nutritional problem among adolescents, making it necessary to
provide iron-rich snacks that are well-accepted. Red spinach flour contains iron,
while dragon fruit contains vitamin C, which plays a role in enhancing iron
absorption. This study aims to develop muffins using red spinach flour and dragon
fruit as substitutes, as an alternative snack to support the prevention of anemia in
adolescents. The study employed a laboratory experimental design using a onefactor completely randomized design (CRD) consisting of three formulations: F1
(10% red spinach flour + 10% dragon fruit), F2 (20% red spinach flour + 20%
dragon fruit), and F3 (30% red spinach flour + 30% dragon fruit). Organoleptic
testing was conducted on 126 semi-trained panelists, and the data were analyzed
using the Kruskal–Wallis test and the follow-up Mann–Whitney test. Formula F1
was selected as the optimal formula, with an energy content of 298.7 kcal, protein
8.18%, fat 9.2%, carbohydrates 45.8%, moisture 33.3%, ash 3.51%, and iron (Fe)
7.8.

