Perkembangan Embrio Ulat Sutra Eri (Samia cynthia ricini) dengan Variasi Lama Perendaman Etilen Glikol 1,5 Molar
Abstract
Ulat sutra eri (Samia cynthia ricini) merupakan komoditas persutraan
potensial yang pengembangannya terkendala oleh masalah sinkronisasi siklus
budidaya dan distribusi akibat pendeknya waktu penetasan telur. Penelitian ini
bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi lama perendaman etilen glikol (EG)
1,5 M dan lama penyimpanan dingin terhadap perkembangan embrio, durasi
penetasan, durasi penundaan penetasan, serta daya tetas telur ulat sutra eri.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) 3×2 dengan
tiga taraf lama perendaman EG (3, 5, dan 7 menit) dan dua taraf lama penyimpanan
dingin (7 dan 10 hari). Hasil menunjukkan bahwa penyimpanan dingin
menyebabkan penundaan perkembangan embrio yang ditandai dengan
keterlambatan fase embriogenesis. Semakin lama penyimpanan dingin, semakin
panjang durasi penundaan penetasan. Perlakuan EG7-07 menghasilkan durasi
penundaan terpanjang (7,75 hari) dengan daya tetas lebih tinggi (15,22%). Lama
perendaman EG tidak berpengaruh nyata terhadap daya tetas, sedangkan lama
penyimpanan dingin berpengaruh nyata (p < 0,05). Terdapat trade-off antara
keberhasilan retardasi dan viabilitas embrio, sehingga optimasi lama penyimpanan
masih diperlukan. Eri silkworm (Samia cynthia ricini) is a promising product in sericulture, but
its development is limited by challenges in synchronizing rearing cycles due to the
short egg incubation period. This study investigated how different durations of
ethylene glycol (EG) 1.5 M immersion (3, 5, and 7 minutes) and cold storage
periods (7 and 10 days) affect embryo development, hatching time, hatch delay, and
hatchability of eri silkworm eggs. A 3×2 factorial completely randomized design
was used. Results indicated that cold storage slowed embryo development, delaying
embryogenesis stages, with longer storage increasing both hatching and delay
durations. The treatment with 7-minute EG 1.5 M immersion and 7-days cold
storage (EG7-07) yielded the longest hatch delay and the highest hatchability rate
at 15.22%. While EG immersion duration did not significantly affect hatchability,
cold storage duration did (p < 0.05). There is a trade-off between successful
retardation and embryo viability, highlighting the need for further optimization of
storage time.

