Show simple item record

dc.contributor.advisorGurnadi, R. Eddie
dc.contributor.advisorHerman, Rachmat
dc.contributor.authorSudirman, Muhamad
dc.date.accessioned2024-04-17T06:16:00Z
dc.date.available2024-04-17T06:16:00Z
dc.date.issued1986
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/146036
dc.description.abstractPenelitian ini dilakukan di peternakan rusa daerah Gu- nung Salak, sejak tanggal 2 sampai 11 September 1984, dan di Kebun Binatang Ragunan, dimulai tanggal 8 sampai 20 De- sember 1984 dan tanggal 2 sampai 13 Agustus 1985. Pengum- pulan data dilakukan dengan metode wawancara dan pengamatan langsung. Tujuannya adalah untuk mempelajari beberapa si- fat reproduksi empat spesies rusa, khususnya angka kelahir- an dan tingkah laku yang berhubungan dengan reproduksi. Pengamatan tingkah laku dilakukan pagi, siang dan ma- lam hari. Wawancara dengan perawatnya, dilakukan untuk mendapatkan deskripsi secara umum. Enam puluh ekor rusa yang dipelihara dalam lima buah paddock, di Kebun Binatang Ragunan, diambil sebagai contoh pengamatan beberapa sifat reproduksi. Data angka kelahiran dan nisbah kelamin dihitung berdasarkan "Dinamika Populasi", dari catatan harian satwa mulai tahun 1977 sampai tahun 1984. Catatan individu rusa yang diamati tidak ada. Per- bedaan angka kelahiran antara keempat spesies rusa, diuji dengan menggunakan uji hipotesa (uji -t) menurut Steel dan Torrie (1980). Penelitian ini memperoleh rataan angka kelahiran rusa Jawa sebesar 35.27 ± 19.01%, rusa Sambar 29.48 ± 19.20%, rusa Bawean 56.84 19.92% dan rusa Totol sebesar 54.64 ± 22.19%. Rataan angka kelahiran rusa Bawean berbeda nyata (P0.05) dengan rataan angka kelahiran rusa Sambar, se- dangkan perbandingan antara spesies yang lain, tidak ber- beda nyata. Rataan nisbah kelamin rusa Jawa, rusa Sambar, rusa Bawean dan rusa Totol, berturut-turut sebesar 0.83, 1.02, 0.58 dan 0.97. Berdasarkan peneliti yang lain, nis- bah kelamin keempat spesies rusa ini, termasuk kurang baik. Angka kelahiran keempat spesies rusa di Kebun Binatang Ragunan, belum termasuk menguntungkan. Rendahnya tingkat reproduksi, disebabkan faktor manajemen pemeliharaan yang kurang baik. Setelah melalui perkelahian yang dapat mengakibatkan luka-luka ataupun kematian. Rusa jantan dewasa yang mempu- nyai tanduk besar dan sempurna, biasanya sebagai pemenang dan mendapatkan betina berahi. Betina berahi selalu diiku- ti sepanjang hari. "Coitus" berlangsung dengan cepat dan sering dilakukan berkali-kali. Jantan yang kalah akan ber- usaha mendekati betina berahi lainnya. Jantan dewasa yang baru menanggalkan tanduk, maupun yang masih bertanduk muda...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcSifat reproduksi rusa jawa ( Cervus timorensis ), rusa sambar ( Cervus unicolor ), rusa bawean ( Axis kuhlii ) dan rusa totol ( Axis axis )id
dc.titleSifat reproduksi rusa jawa ( Cervus timorensis ), rusa sambar ( Cervus unicolor ), rusa bawean ( Axis kuhlii ) dan rusa totol ( Axis axis )id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record