Show simple item record

dc.contributor.advisorMartojo, Harimurti
dc.contributor.advisorTaurin, M. Buyung
dc.contributor.authorAsrianto, Lilik
dc.date.accessioned2024-03-25T06:53:35Z
dc.date.available2024-03-25T06:53:35Z
dc.date.issued1994
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/143302
dc.description.abstractBanteng merupakan hewan mamalia, termasuk jenis satwa liar dan dilindungi di Indonesia, populasinya semakin berkurang, bahkan terancam kepunahan. Satwa ini termasuk salah satu kekayaan plasma niutfah bagi negara Indonesia, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Satwa ini berpotensi sebagai produksi daging untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, sehingga kalau Banteng ini disilangkan dengan salah satu bangsa yang ada di i Indonesia Indonesia khususnya Sapi Bali, diharapkan akan sangat menguntungkan bagi negara Indonesia. Teknologi reproduksi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan persilangan tersebut adalah inseminasi buatan, yang penggunaannya telah dikenal baik oleh masyarakat Indonesia. Penelitian ini dilakukan di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta dan Laboraturium Ilmu Reproduksi dan Kebidanan Fakultas Kedokteran Hewan, Intitut Pertanian Bogor. Penelitian dimulai tanggal 7 Mei sampai dengan 20 Juni 1994. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh variasi taraf gliserol terhadap persentase sperma Banteng yang aktif kembali setelah dibekukan, dengan kuning telur ayam sebagai bahan dasar pengencer. Semen diperoleh dari empat ekor Banteng jantan yang ada di Kebun Binatang Ragunan, Jakarta. Penampungan semen dilakukan dengan menggunakan elektro- ejakulator dan sebelumnya Banteng-Banteng tersebut dibius terlebih dahulu. Semen masing-masing Banteng tersebut dibagi menjadi tiga bagian dan selanjutnya diencerkan dalam pengencer kuning telur ayam yang masing-masing mengandung 3, 5 dan 7% gliserol. Semen dimasukkan ke dalam mini straw (0,25 ml) dengan perkiraan konsentrasi 25 juta sperma aktif per straw, selanjutnya dilakukan pem- bekuan dan penyimpanan semen dalam cairan nitrogen (suhu -196 °C). Pengamatan aktivitas sperma setelah pencairan kembali dilakukan setelah semen disimpan selama 0 (24 jam), 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 minggu. Rataan sperma aktif kembali untuk semua perlakuan variasi taraf gliserol pada waktu-waktu tersebut adalah 64,30, 44,23, 42,62, 40,32, 39,26, 39,03, dan 38,80%. Rataan sperma aktif kembali untuk taraf gliserol 3, 5 dan 7% adalah sebesar 31,14, 39,57 dan 61,53%. Analisis statistik dengan sidik ragam memberikan hasil bahwa masing-masing perlakuan atau faktor gliserol (G) dan waktu (W) memberikan pengaruh sangat berbeda nyata (P<0,01) terhadap pembekuan dan persentase sperma aktif kembali setelah pencairan kembali (thawing). Hasil analisis uji jarak Duncan adalah, sangat berbeda nyata (P<0,01) antara perlakuan G3 dengan G7, dan Gs dengan G7, berbeda..dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcAnimals Productionid
dc.subject.ddcBos Javanicusid
dc.titleVariasi taraf gliserol dan kuning telur ayam serta pengaruhnya terhadap daya aktivitas semen beku banteng (Bos Javanicus d'Alton)id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record