Show simple item record

dc.contributor.advisorMansjoer, Sri Supraptini
dc.contributor.advisorAtmakusuma, Yuniar
dc.contributor.authorRiszqina
dc.date.accessioned2024-03-13T04:48:51Z
dc.date.available2024-03-13T04:48:51Z
dc.date.issued1982
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/141549
dc.description.abstractTujuan penelitian ini adalah untuk menduga bobot hi- dup dan bobot karkas dengan panjang "shank" ayam kampung serta tinjauan terhadap cara penjualan karkas ayam kam- pung di Pasar Bogor. Studi kasus pendugaan bobot ayam kampung ini dilaku- kan selama dua setengah bulan yaitu dari pertengahan Mei 1981 hingga akhir Juli 1981. Lokasi penelitian ini di Pulo Geulis, Kotamadya Bogor pada suatu usaha pengolahan ayam kampung hidup menjadi karkas (milik pedagang pengecer). Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran terhadap parameter bobot hidup, bobot karkas dan panjang "shank" pada ayam kampung jantan dan betina. Karkas ayam kampung yang dimaksud adalah ayam tanpa bulu, darah, jeroan kecuali hati dan empela ("gizzard"). Pengumpulan data juga dilakukan secara wawancara terhadap pedagang pengecer dan pedagang penerima/penyebar tingkat kedua. Data yang diperoleh dianalisa dengan rancangan Faktorial 2X 3 model campuran (tetap, acak) dan dengan regresi linier serta perhitungan terhadap biaya tataniaga dan marjin tataniaga. Hasil analisa menunjukan bahwa pengelompokan bobot badan dibawah 0.7 kg (kelas bobot lima), 0.7-0.8 kg (ke- las bobot empat) dan 0.9 1.0 kg (kelas bobot tiga) ber- pengaruh sangat nyata terhadap bobot hidup, bobot karkas dan panjang "shank" ayam kampùng, tetapi tidak nyata ter- hadap persentase karkas. Koefisien korelasi antara bobot hidup panjang "shank" pada ayam kampung jantan dan betina sebesar 0.79 dan 0.43. Sedangkan antara bobot hidup bobot karkas sebesar 0.94 dan 0.88 serta antara bobot karkas panjang "shank" se- besar 0.78 dan 0.38 pada ayam kampung jantan dan betina. Kesalahan pendugaan bobot hidup dan bobot karkas pada ayam jantan lebih kecil dibandingkan pada ayam betina. Keuntungan terbesar pedagang penerima/penyebar ting- kat kedua pada penjualan karkas eceran pada kelas bobot ti- ga (0.9 1.0 kg) sebesar Rp 332.71 per ekor (18.74 persen). Sedangkan keuntungan terbesar pedagang pengecer dalam pen- Jualan karkas ayam kampung eceran dari kelas bobot lima (/ 0.7 kg) sebesar Rp 182.75 (10.29 persen). Marjin tataniaga karkas ayam kampung yang dijual eceran dipasar Bogor tanpa memperhatikan kelas bobot sebesar Rp 372.50 (20.98 persen). Bila ditinjau dari kelas bobot, maka kelas bobot tiga (0.9- 1.0 kg) mempunyai marjin tataniaga yang terbesar yaitu Rp 600.00 (33.80 persen)…id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcBeberapa Sifat Produksi Yang Ekonomis Serta Pemasaran Ayam Kampungid
dc.titleBeberapa Sifat Produksi Yang Ekonomis Serta Pemasaran Ayam Kampungid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record