Sistem perencanaan keterpaduan pengembangan industri pakan ternak dan usahatani jagung
Abstract
Sasaran pembangunan ekonomi Indonesia adalah terwujudnya struktur yang seimbang antara sektor pertanian dan industri, yang diwujudkan dengan berkembangnya industri berbasis pertanian atau agroindustri. Peternakan sebagai salah satu bagian dari sektor pertanian penting sekali untuk dikembangkan, karena berperan dalam pemenuhan kebutuhan protein, lemak dan kalori.
Tingkat konsumsi daging penduduk Indonesia tahun 1995 sebesar 1.581.500 ton sedangkan total produksi daging Indonesia hanya sebesar 1.564.300 ton, sehingga Indonesia harus mengimpor daging sebesar 17.200 ton senilai 116.220.000 US $ dan impor hasil ternak sebesar 594.732.000 US $. Usaha pengembangan peternakan harus ditunjang oleh sektor-sektor yang terkait, antara lain penyediaan pakan ternak yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
*bolagung sebagai salah satu tanaman pangan di Indonesia, menduduki urutan kedua setelah padi, disamping untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, jagung juga diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Pemilihan jagung sebagai bahan baku yang dikaji dalam penelitian ini didasarkan pada proporsi jagung yang sangat besar dalam pakan ternak khususnya pakan ayam yaitu berkisar antara 50-60 persen, sedangkan dalam pemenuhannya Indonesia masih harus melakukan impor. Impor jagung Indonesia untuk kebutuhan industri pakan ternak terus meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 1994 impor jagung sebesar 500.000 ton dan meningkat menjadi 1.100.000 ton pada tahun 1995 dan 1996. Produksi jagung pipilan kering nasional tahun 1993 sebesar 6.460.000 ton, meningkat menjadi 6.869.000 ton pada tahun 1994 dan 8.246.000 ton pada tahun 1995. Produksi di Bogor tahun 1996 mencapai 6.571 ton pipilan kering, yang meningkat dari tahun 1995 produksinya sebesar 4.938 ton. Berdasarkan potensi tersebut maka terbuka peluang untuk mengembangkan industri pakan ternak dengan bahan baku utama jagung, dengan asumsi bahwa bahan baku lainnya tersedia secara kontinyu.
Sistem perencanaan keterpaduan pengembangan industri pakan ternak dan usahatani jagung diharapkan akan membentuk hubungan kemitraan antara petani jagung dan industri pakan ternak, sehingga keduanya akan memperoleh manfaat, dimana petani akan memperoleh peningkatan pendapatan dari hasil penjualan jagungnya, dan industri pakan ternak akan memperoleh keuntungan dengan penurunan harga beli jagung, bila dubandingkan dengan membeli dari luar (impor).
Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mempelajari faktor dan parameter yang berpengaruh dalam perencanaan pengembangan industri pakan ternak (2) mengkaji tingkat keuntungan dan kelayakan pengembangan industri pakan ternak dalam hubungannya dengan pengembangan usahatani jagung untuk meningkatkan pendapatan petani jagung (3) melakukan perencanaan keterpaduan pengembangan industri pakan ternak dan usahatani jagung di Bogor.
Pengkajian masalah khusus ini dimulai dengan studi pustaka dan dilanjutkan dengan pengumpulan data primer dan data sekunder, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan data menggunakan metode AHP (Proses Hirarki Analitik) dan metode MPE (Metode Perbandingan Eksponensial). Alternatif pakan ternak dengan skor yang tertinggi dipilih sebagai alternatif yang akan dikembangkan, selanjutnya dihitung kelayakan investasinya, adapun kriteria investasi yang dihitung adalah NPV, Net B/C, IRR, dan PBP serta sensitivitasnya terhadap kenaikan harga bahan baku dan pembantu serta penurunan nilai jual produk.
Hasil perhitungan dengan menggunakan metode MPE didapatkan skor yang tertinggi adalah pakan ayam pedaging dengan nilai 7.2817 dan pakan ayam petelur dengan nilai 7,2737, sehingga prioritas pengembangan industri pakan ternak adalah dengan memproduksi pakan ayam pedaging dan petelur.
