Show simple item record

dc.contributor.advisorJamaran, Irawadi
dc.contributor.authorAndrianto, Mokhamad Syaefudin
dc.date.accessioned2024-02-12T02:48:05Z
dc.date.available2024-02-12T02:48:05Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/138124
dc.description.abstractKrisis moneter pada pertengahan April 1997 merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Di satu sisi ada perusahaan-perusahaan yang bangkrut tetapi adapula perusahaan-perusahaan yang mampu bertahan bahkan meraih untung berlipat. Perusahaan-perusahaan yang bangkrut umumnya menggunakan pinjaman dari luar negeri atau berbahan baku impor. Perusahaan- perusahaan yang bertahan dan meraih untung berlipat umumnya usaha kecil berbahan baku dalam negeri (resource based industry). Agroindustri merupakan salah satu subsektor yang mampu bertahan dan memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan terutama di daerah-daerah yang memiliki hasil pertanian melimpah seperti di Kabupaten Banjarnegara. Pendirian sentra produksi agroindustri kecil dapat mendorong kenaikan tingkat pendapatan masyarakat dan menggerakkan perekonomian daerah. Tiap-tiap daerah memiliki karakteristik dan potensi kekayaan alam yang berbeda-beda, sehingga diperlukan kebijakan serta strategi khusus untuk mengembangkan komoditas tertentu. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan formula strategi pengembangan agroindustri kecil di Kabupaten Banjarnegara. Metode penelitian yang digunakan adalah Proses Hirarki Analitik dan Teknik Bayes. Responden yang digunakan adalah responden ahli dari Bappeda (Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah), Dinas Indagkop (Industri, Perdagangan dan Koperasi) dan Dinas Pertanian. Potensi pertanian sebagai bahan baku agroindustri di Kabupaten Banjarnegara cukup beragam. Dinas Pertanian telah menetapkan 8 komoditas unggulan yaitu salak, kentang, nilam, kelapa, teh, sapi, domba dan gurame. Dinas Indagkop telah menetapkan 7 komoditas unggulan yaitu industri keramik, kerajinan bambu, kerajinan kayu, kerajinan ece, gula merah, tapioka dan nilam. Orientasi agroindustri yang dapat dikembangkan di Kabupaten Banjarnegara adalah AIPRD (Agro Industry Propelled Rural Development), APEPAI (Agricultural Product Export Promoting Agro Industry), ADLAI (Agricultural Demand Led Agro Industry) dan ISAI (Import Subtitution Agro Industry). Berdasarkan hasil penelitian bahwa prioritas orientasi yang dikembangkan di Kabupaten Banjarnegara adalah AIPRD (3,28), ΑΡΕΡΑΙ (3,22), ADLAI (3,08) dan ISAI (2,89). AIPRD adalah pengembangan agroindustri yang diarahkan untuk menggerakkan perekonomian pedesaan. APEPAI adalah pengembangan agroindustri yang diarahkan untuk mendorong ekspor hasil pertanian. ADLAI adalah pengembangan agroindustri yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani. ISAI adalah pengembangan agroindustri yang diarahkan untuk mengganti produk agroindustri impor. ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcStrategi pengembangan agroindustri kecil di Kabupaten Banjarnegaraid
dc.titleStrategi pengembangan agroindustri kecil di Kabupaten Banjarnegaraid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record