View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Agroindustrial Technology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - Faculty of Agricultural Technology
      • UT - Agroindustrial Technology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Evaluasi tingkat kebisingan di industri terhadap kenyamanan dan kesehatan pekerja : Studi kasus di PT.XYZ

      Thumbnail
      View/Open
      Fullteks (31.36Mb)
      Date
      2004
      Author
      Sembodo, Joko
      Syamsu, Khaswar
      Yani, Mohamad
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Di Indonesia dewasa ini pembangunan di segala bidang terus ditingkatkan, baik pembangunan fisik maupun pembangunan mental. Karena pembangunan tanpa disadari juga berakibat yang h.mang menguntungkan pada manusia dan lingk.7.lllgannya, maka diperlukan pengendalian perilaku manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam, temiasuk di dalamnya pembangunan industri yang menimbulkan kebisingan. Secara umum kebisingan dapat diartikan sebagai suara yang merugikan terhadap manusia dan lingkungannya, termasuk binatang temak, satwa liar, dan sistem alam. Disamping itu, kebisingan juga akan menimbulkan tekanan fisiologik yang akan mcmpengaruhi syaraf pengatur saluran darah, tegangan otot, keluarnya honnon adrenal yang menyebabkan syaraf menjadi tegang dan denyut jantung meningkat. Salah satu usaha pemerintah, dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja, untuk menangani masalah tersebut adalah dengan memasyarakatkan program K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja). Salah satu unsur yang digalakkan dalam program K3 adalah pengendalian kebisingan pada berbagai industri. Tujuan dari penelitian adalah 1) Memetakan kebisingan yang ditimbulkan industri, 2) Mengevaluasi tingkat kebisingan yang ditimbulkan industri, dan pengaruhnya terhadap kenyamanan dan kesehatan pekerja dan masyarakat sekitar industri. Alat pengukur kebisingan yang digunakan adalah Sound Level Meter, dan bahan yang digunakan adalah berupa kuesioner. Metode penelitian yang dipakai adalah metode deskriptif. Kebisingan pada seluruh lokasi dianalisa dengan menggunakan rumus L0, LN, dan LnN, kemudian dipetakan. Kebisingan mesin dianalisa dengan menghitung tingkat kebisingan mesin dalam keadaan mesin beroperasi dengan beban (MOB), mesin beroperasi tanpa beban (MOTB), dan keadaan mesin tidak beroperasi (MTO), sedangkan penelitian tenaga kerja dan masyarakat dianalisis dengan menggunakan metode Chi-Square dan kemudian diuji koefisien kontingensi Pearson untuk menguji tingkat keeratan dua peubah. Tingkat kebisingan siang bari (Lo) pabrik tersebut antara 29.40 - 91.29 dB(A), pada malam hari (LN) antara 37.40 - 70.70 dB(A) dan pada siang-malam hari (L0N) antara 35.90 -70.10 dB(A). Tingkat kebisingan yang terjadi di gedung Assembling, Material dan gedung Tractor Painting & RTS tidak melebihi NAB Kebisingan sebesar 85 dB(A), sehingga ketiga gedung tersebut dikategorikan sebagai daerah yang aman bagi pendengaran tenaga kerja. Sedangkan tingkat kebisingan yang terjadi di gedung pabrikasi melebihi NAB Kebisingan 85 dB(A), sehingga gedung tersebut dikategorikan sebagai daerah adanya tekanan bising yang tinggi, kwang aman bagi pendengaran tenaga kerja dan perlu dilal.'Ukan pengendalian terhadap mesin-mesin dan tenaga kerja. Tingkat kebisingan tertinggi (L0) terdapat di gedung pabrikasi, yaitu antara 70.80 -91.29 dB(A) dan melebihi NAB Kebisingan sebesar 85 dB(A), sehingga perlu pengendalian berupa pemasangan penyekat/ruangan kedap suara pada mesin Counterweight, penggunaan peredam suara pada langit-langit dan dinding gedung pabrikasi. Tingkat kebisingan terendah terdapat di ruangan dalam kantor antara 62.1 - 68.1 dB(A) dan tidak melebihi NAB 85 dB(A). Kebisingan kantor yang terjadi menganggu aktivitas karyawan yang bekerja di dalam kantor, sehingga perlu pengendalian berupa a) penggunaan peredam suara pada dinding kantor, b) menempatkan pembatas berupa dinding penyekat yang terbuat dari kaca, fibre glass atau baja dengan ketebalan 10 - 20 mm antara gedung Assembling dengan kantor. Ketebalan kaca, fibre glass atau baja tersebut dapat mengurangi tekanan bising hingga 32dB. Alternatif pembatas yang lain bisa berupa tanaman bambu kw1ing dan pohon cemara laut. Kedua jenis tanaman tersebut clapat mereduksi kebisingan hingga 31.1 dB. Tingkat kebisingan mesin-mesin pada saat kondisi MOB berkisar antara 82.9 - 100.8 dB, pacla kondisi MOTB berkisar antara 83.9 - 101.90 dB dan pada kondisi MTO berkisar antara 74.80 - 80.90 dB. Tingkat kebisingan mesin rata-rata tertinggi pada saat kondisi MOB adalah mesin Welding sebesar 90.18 dB, pada saat kondisi MOTB adalah mesin Counterweight sebesar 91.29 dB. Kebisingan yang terjadi pada mesin-mesin tersebut telah melebihi NAB sebesar 85 dB(A), sehingga perlu adanya pengendalian terhadap mesin-mesin tersebut berupa a) penggunaan peredam suara pada mesin Counterweight clan mesin Welding, b) ruangan kedap stiara yang terbuat dari kaca, fibre glass atau baja dengan ketebalan 10 - 20 mm di sekeliling mesin Counterweight, c) meminclahkan mesin Counte,weight ke lokasi khusus yang jauh dari kegiatan utama. Penelitian terhadap tenaga kerja menunjukkan sebagian besar responden (80.83 %) mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang bahaya bising dan penggunaau alat pelindung telinga. Demikian juga tentang sikap responden (76.67 %) mempunyai sikap yang baik tentang penggunaan alat pelindung telinga. Namun clalam hal perilaku ternyata berlawanan dengan pengetahuan dan sikap karena sebagian besar responden mempunyai perilak'll yang l'llfang (45.83 %). Ini disebabkan kebiasaan menggunakan alat pelindw1g telinga termasuk didalam penilaian perilaku. Pada Uji Chi-Square, sikap dan pengetahuan tenaga kerja memiliki hubungan keterkaitan secara signifikan/bermakna dengan penggunaan Alat Pelindung Telinga (APT). Hubungan tersebut berupa peningkatan pengetahuan melalui pendidikan Keselamatan clan Kesehatan Kerja (K3), sehingga kesadaran clan perilaku tenaga kerja akan semakin baik dan resiko terjadinya NIHL dapat dihindari. Berdasarkan kasus yang terjadi di PT. XYZ, yaitu banyaknya terjadi NIHL pada tenaga kerja sebanyak 32 responden (26.67 %) merupakan tenaga kerja yang bekerja di gedung pabrikasi, gedung Assembling, dan gedung Tractor Painting & RTS, maka diperlukan upaya pengendalian terhadap tenaga kerja diantaranya adalah: a) peningkatan pengetahuan seluruh tenaga kerja melalui pendidikan K3 (Kebisingan), b) penggunaan APT secara benar. Tenaga kerja yang langsung menangani mesin, terutama tenaga kerja yang menjalankan mesin Countenveight, Welding, clan Boring Horizontal di gedung pabrikasi d.ianjurkan memakai kombinasi APT jenis sumbat telinga clan tutup telinga. Kombinasi APT tersebut dapat mengurangi tekanan bising hingga 50 dB. Sedangkan tenaga kerja yang ticlak langsung menangani mesin dianjurkan memakai APT jenis sumbat telinga yang telah disediakan oleh perusahaan apabila memasuki dan bekerja di gedung pabrikasi dan material, assembling, dan gedung Tractor Painting & RTS, c) pengaturan lama kerja pekerja di tempat bising. Dengan memperhitungkan jam kerja yang berlaku selama 8 jam per hari dengan jam kerja efektif7 jam per hari (420 menit), maka dapat ditentukan bahwa pekerja dapat bekerja terns menerus di tempat bising selama 20 menit dengan wal'tll antar rotasi sebesar 3 menit. Dengan demikian jumlah rotasi setiap harinya adalah 18 rotasi. Pengaturan lama kerja ini sangat penting agar tenaga kerja tidak mengalami gangguan psikologik berupa sukar berkonsentrasi, cepat merasa Ielah, menurunkan daya kerja dan gangguan pendengaran. Kenyamanan dan kesehatan pekerja akan terjaga dengan baik. NII-Il., (Noise Induced Hearing Loss) memiliki keterkaitan yang signifikan/bennakna dengan faktor umur, pendidikan, masa kerja, pengetahuan tentang Alat Pelindung Telinga (APT), sikap clan perilal'll clalam menggunakan alat pelindung telinga. Faktor lainnya adalah intensitas bising yang tinggi (melebihi 85 dB) dan lamanya tenaga kerja terkena bising. Faktor latar belakang sosial masyarakat, yaitu jarak rumah dengan sumber kebisingan memiliki hubungan keterkaitan yang signifikan dengan pemahaman masyarakat terhaclap kebisingan. Pengendalian yang cukup efektif d.ilakukan pernsahaan adalah dengan memasang bahan pereclam suara dan memasang pagar tanaman dengan tanaman bambu kuning clan pohon cemara laut di sekitar areal perusahaan yang berdekatan/bersebelahan dengan rumah penduduk.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/135644
      Collections
      • UT - Agroindustrial Technology [4355]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository