Kajian hidrolisis pati garut dengan menggunakan B-Amilase dan kombinasi B-Amilase dengan glukoamilase dalam pembentukan siklodekstrin oleh siklodekstrin glikosiltransferase
Abstract
Tanaman garut (Maranta arundinacea L) sebagai sumber karbohidrat pati garut belum dikembangkan secara sungguh-sungguh di Indonesia. Produksi umbi garut berkisar antara 7,5-45 ton/ha atau setara dengan 1,3-7,8 ton pati /ha (rendemen pati rata-rata 17,.5%) sehingga total produksi pati di Indonesia sebesar 1,95 ton-3,25 juta ton pati/ tahun. (Anonim, 2004). Pati garut yang mempunyai sifat fisiko kimia dengan kadar pati yang cukup tinggi sebesar 81,35% dimana kandungan amilosanya sebesar 24,49 dan amilopektin 72,70% digunakan sebagai bahan baku pembuatan siklodekstrin. Dilihat dari komposisi diatas dapat dilihat kandungan amilopektin mempunyai komposisi yang besar. Dalam amilopektin sebagian besar molekulnya tersusun dengan ikatan a-1,6-glikosidik. Sebagian besar pembuatan siklodekstrin mengunakan enzim penghidrolisa a-amilase dimana enzim ini tidak dapat menghidrolisis ikatan a-1,4-glikosidik sehinggga banyak amilopektin yang tidak terhidrolisis. Jika banyak amilopektin yang tidak terhidrolisis maka siklodekstrin yang terbentuk mempunyai rendemen yang kecil. Oleh karena itu diperlukan enzim penghidrolisa lain yang mampu memutuskan ikatan a-1,6-glikosidik. Salah satu enzim yang dapat memutuskan ikatan a-1,6- glikosidik adalah enzim glukoamilase kemudian dikombinasikan dengan enzim ẞ- amilase.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh konsentrasi substrat pati garut dengan konsentrasi enzim penghidrolisa dan konsentrasi enzim CGT-ase serta lama reaksi yang optimal sehingga pada kondisi tersebut akan diperoleh siklodekstrin dengan rendemen yang tinggi. ...
