Show simple item record

dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.authorSam, Nursahaldin
dc.date.accessioned2023-11-08T08:37:09Z
dc.date.available2023-11-08T08:37:09Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131220
dc.description.abstractPenelitian dilakukan di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Mei 2012. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Pengambilan responden petani dilakukan berdasarkan secara sengaja (purposive) dan lembaga tataniaga dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling. Jumlah petani responden adalah sebesar 60 orang petani. Terdapat tiga saluran tataniaga kakao di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu saluran tataniaga I: petani dan industri kakao; saluran II: petani, gabungan kelompok tani dan eksportir; saluran III: petani, pedagang tingkat desa, pedagang tingkat kecamatan dan eksportir. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tataniaga dalam tataniaga kakao ini adalah fungsi pertukaran dilakukan oleh lembaga tataniaga dan petani tidak melakukan kegiatan pembelian. Pada saluran I, II dan II petani tidak melakukan fungsi fisik apapun. Fungsi fisik pengeringan,pengolahan dan pengangkutan dilakukan oleh industri kakao dan Gapoktan. Fungsi. Eksportir hanya melakukan pengeringan dan pengangkutan seperti pedagang tingkat kecamatan. fasilitas penanggungan risiko, pembiayaan dan informasi pasar dilakukan pada setiap lembaga tataniaga. Fungsi sortasi dilakukan oleh seluruh lembaga tataniaga namun hanya pada saluran II dan saluran III petani melakukannya. Struktur pasar yang dihadapi petani, pedagang tingkat desa mendekati pasar persaingan karena terdapat banyak petani dan pedagang tersebut, barang yang hampir homogen walaupun pada petani terdapat kakao kering dan kakao basah, serta tidak adanya hambatan untuk keluar dan masuk pasar. Pasar oligopoli dihadapi oleh Industri dan Eksportir kakao karena sedikitnya lembaga, sifat produk homogen dan ada kesulitan untuk keluar masuk pasar. Perilaku pasar dapat dilihat dari praktik pembelian dan penjualan, sistem penentuan harga dan pembayaran harga dan kerjasama antara lembaga tataniaga. Praktik pembelian dan penjualan dilakukan secara berjangka dan langsung. Penentuan harga kakao di tingkat petani adalah melalui sistem penentuan harga langsung dari lantai bursa saham di New York setiap hari selasa hingga sabtu dengan lembaga tataniaga lain yang memberikan informasi tersebut. Pembayaran hasil penjualan dilakukan secara tunai dan berjangka. Kerjasama antar lembaga tataniaga dengan petani berupa kerjasama dalam hal jual beli,sosialisasi, pelatihan dan langganan. Saluran tataniaga yang paling mudah dalam sistem tataniaga kakao di kabupataen Luwu Utara provinsi Sulawesi Selatan adalah saluran tataniaga I. Hal ini dapat dilihat dari nilai margin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Namun, saluran tataniaga II yang paling ideal untuk petani dan memiliki nilai tambah yang besar di karenakan biji kakaonya di olah menjadi biji kakao fermentasi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcEconomics and Development Studies - Agribusinessid
dc.titleAnalisis Rantai Tataniaga di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatanid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordCacaoid
dc.subject.keywordSupply chain analysisid
dc.subject.keywordLuwu Utaraid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record