Show simple item record

dc.contributor.advisorAminah, Mimin
dc.contributor.authorLestari, Tanti
dc.date.accessioned2023-11-01T09:20:51Z
dc.date.available2023-11-01T09:20:51Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129796
dc.description.abstractStock split merupakan aktivitas meningkatkan jumlah saham yang beredar dengan memecah nilai nominal saham. Stock split memiliki peranan yang penting untuk menjaga harga saham agar tetap optimal. Saat harga saham dinilai tinggi yang akan mengurangi minat investor berinvestasi, perusahaan dapat melakukan stock split untuk mengantisipasinya sehingga likuiditas saham tetap terjaga. Bank BRI telah melakukan stock split pada 11 Januari 2011 dengan rasio 1:2 dari nilai nominal saham Rp 500 menjadi Rp 250. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui alasan-alasan Bank BRI melakukan stock split, (2) Mengetahui pengaruh stock split terhadap harga saham Bank BRI, (3) Mengetahui pengaruh stock split yang dilakukan Bank BRI terhadap likuiditas sahamnya, (4) Mengetahui pengaruh stock split terhadap persepsi investor pasar modal dalam menilai saham BBRI. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang terkait dengan keputusan stock split Bank BRI. Alat analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t dua sampel berpasangan dan uji wilcoxon dua sampel berpasangan dengan menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel 2007 dan SPSS 17. Alat analisis yang digunakan tergantung dari normalitas data. Apabila data berdistribusi normal, menggunakan uji-t dua sampel berpasangan. Sebaliknya, apabila data berdistribusi tidak normal, maka menggunakan uji wilcoxon dua sampel berpasangan. Alasan utama yang mendorong BRI melakukan stock split adalah untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham dan memperluas penyebaran kepemilikan serta distribusi saham perseroan di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan hasil uji-t dan uji wilcoxon dua sampel berpasangan, diketahui pengaruh stock split terhadap harga saham BRI muncul pada periode 20 hari hingga 60 hari. Pada periode tersebut, terjadi penurunan harga saham relatif dengan besarnya penurunan, yaitu: pada periode 20 hari sebesar 4,39%; periode 25 hari sebesar 7,27%; periode 30 hari sebesar 8,17%; periode 35 hari sebesar 9,66%; periode 40 hari sebesar 10,29%; periode 45 hari sebesar 10,93%; periode 50 hari sebesar 11%; periode 55 hari sebesar 10,14%; dan menurun pada periode 60 hari menjadi 8,46%. Pengaruh stock split terhadap likuiditas saham BRI terlihat pada periode 15 hari hingga 60 hari. Likuiditas saham BRI setelah stock split mengalami penurunan cukup tajam dengan persentase sebagai berikut: 52,24% pada periode 15 hari; 51,81% pada periode 20 hari; 48,40% pada periode 25 hari; 49,39% pada periode 30 hari; 48,24% pada periode 35 hari; 44,24% pada periode 40 hari; 43,33% pada periode 45 hari; 43,03% pada periode 50 hari; 41,62% pada periode 55 hari; dan 38,62% pada periode 60 hari. Hasil tersebut sangat bertolak belakang dengan tujuan utama stock split BRI, yaitu meningkatkan likuiditas. Berdasarkan perbandingan pergerakan harga saham dan likuidtas saham BRI antara sebelum dan setelah stock split, diketahui bahwa investor pasar modal kurang responsif dalam menilai keputusan stock split BRI. Keadaan ini terlihat jelas dari pergerakan harga saham BRI yang semakin lama semakin menurun dan penurunan likuiditas saham BRI hingga melebihi 50%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcEconomics and Development Studies - Managementid
dc.titleAnalisis Pengaruh Cara Berbelanja Terhadap Shopping Enjoyment Pada Pusat Perbelanjaan ITC Cempaka Mas, Jakartaid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordShopping modeid
dc.subject.keywordShopping enjoymentid
dc.subject.keywordBargain huntingid
dc.subject.keywordBrowsingid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record