Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hotnida C.H.
dc.contributor.advisorKaomini, Mien
dc.contributor.authorEndrawati, Yuni Cahya
dc.date.accessioned2023-10-31T14:04:18Z
dc.date.available2023-10-31T14:04:18Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129381
dc.description.abstractPembibitan merupakan tahapan penting dalam proses produksi kokon karena salah satu faktor penentu kesuksesan adalah ketersediaan bibit yang berkualitas unggul. Bibit yang unggul diharapkan mampu menghasilkan produksi yang tinggi baik kualitas maupun kuantitas. Salah satu syarat bibit unggul adalah keseragaman bobot kokon, karena kokon yang seragam diharapkan dapat menghasilkan telur dengan kualitas yang baik. Permasalahan yang muncul adalah ketatnya seleksi pada tingkat pembibitan. Kecenderungan untuk mempertahankan keseragamam bobot kokon menyebabkan tidak dipakainya bobot ekstrim (bobot besar dan kecil), padahal kokon-kokon tersebut berasal dari galur yang mempunyai kualitas unggul. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui hubungan kualitas telur hasil persilangan galur 803 (Ras Jepang) dan galur 804 (Ras Cina) dengan bobot kokon induknya. Kualitas telur yang diamati adalah jumlah telur, bobot telur, bobot kego, daya tetas dan waktu tetas. Penelitian dilaksanakan pada bulan Pebruari sampai dengan Maret 2004 bertempat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. Bahan yang digunakan adalah 300 kokon galur 803 (Ras Jepang) dan 300 kokon galur 804 (Ras Cina). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuannya yaitu (1) 803B X 804B (BAB), (2) 804B X 803B (Aвав), (3) 803K X 804K (akAk) dan (4) 804K X 803K (Akak), keterangan: 803 (a)= galur dari Ras Jepang, 804 (A)= galur dari Ras Cina, B= kokon besar, K= kokon kecil dan dalam sistem penulisan persilangan di mulai dari betina kemudian jantan. Bobot kokon kecil yang diperoleh dalam penelitian ini mempunyai kecenderungan menghasilkan persentase kesempurnaan sayap yang relatif lebih rendah daripada bobot kokon besar. Sistem persilangan resiprokal menghasilkan jumlah rataan telur dan bobot telur yang berbeda nyata (p<0,05). Jumlah rataan telur tertinggi 650 butir dan rataan bobot telur tertinggi 0,61 mg pada persilangan "aBAB". Perbedaan yang nyata pada jumlah telur dan bobot telur disebabkan pengaruh betina dari galur 803. Sistem persilangan tidak berpengaruh nyata pada daya tetas, bobot tetas dan waktu tetas. Sistem persilangan terbaik pada penelitian ini adalah sistem persilangan pada kelompok bobot kokon besar dengan betina galur 803 dan jantan 804 ("aBAB").id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural Universityid
dc.subject.ddcPeternakan; produksi ternakid
dc.titleKualitas telur persilangan ulat sutera Bombyx mori L. ras jepang dengan ras cina berdasarkan bobot kokon indukid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordulat sutera (Bombyx mori L.); persilangan; Ras Jepang; Ras Cina; bobot kokon; kualitas telurid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record