| dc.description.abstract | Perusahaan perikanan banyak mengalami kegagalan dalam menjalankan roda
organisasinya. Hal terse but bukan semata-mata karena kondisi ekonomi yang buruk,
tetapi hampir sebagian dari perusahaan tersebut gagal dalam mengintegrasikan
kekuatan-kekuatan yang ada pada perusahaan. Dengan demikian dibutuhkan suatu
perbaikan-perbaikan qan perubahan-perubahan dari kinerja manajemen perusahaan
dan budaya organisasi. Six Sigma secara statistik mengukur dan mencenninkan
kemampuan proses yang berkaitan dengan ciri-ciri seperti cacat (defect) perunit dan
peluang untuk sukses dan gagal. Perum PPS Cabang Jakarta merupakan salah satu
perusahaan milik pemerintah yang sedang menghadapi masa transisi dari perusahaan
milik pemerintah menjadi BUMN. Es balok merupakan salah satu produk yang
diproduksi oleh PPS Cabang Jakarta, masuk kedalam Divisi Usaha dan Perbekalan
Kapal. Es balok merupakan output yang dirasakan cukup potensial mengeluarkan
biaya tambahan produksi dan potensial dalam hal pemborosan. Program six sigma
berusaha untuk menghilangkan pemborosan dan kesalahan-kesalahan yang terjadi
pada produksi es balok dan pada akhimya akan meningkatkan kinerja perusahaan
diakhir proses.
Tujuan Penelitian menerapkan six sigma yang mungkin dapat diaplikasikan
pada Perum PPS Cabang Jakarta, mengetahui kinerja Produksi Divisi Usaha
Perbekalan Kapal khususnya produksi es balok, mengukur efektifitas produks i es
balok dengan menggunakan konsep six sigma, memformulasikan strategi yang dapat
diterapkan untuk mengurangi inefisiensi (defect).
Hasil penelitian menunjukan bahwa Perum PPS Cabang Jakarta khususnya Sub
Divisi Es Balok memiliki pennasalahan dalam hal produksi. Hal ini terbukti dari
persentase kecacatan yang masih tinggi. Pemborosan yang terjadi di Divisi Es Balok
dan Perbekalan jika dikonversi ke dalam level sigma sebesar 2.58, capat diartikan
bahwa nilai tersebut masih memiliki kapabilitas proses yang masih rendah. Perum
memiliki delapan titik kritis permasalahan (CTQ) yang menjadi penyebab es menjadi
cacat. Proses perbaikan pada sistem produksi es balok dan CTQ harus dilakukan
secara berkelanjutan sehingga kekurang an-kekurangan yang terjadi dapat dijadikan
sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan-perbaikan yang akan datang. Target yang
akan dijadikan sasaran perbaikan perlu diformulasikan sehingga apa yang akan
dilaksanakan tepat pada sasaran. | id |