| dc.description.abstract | Produksi dan Kadar Lemak Susu Sapi Perah Peternakan Rakyat Anggota KUD Cipanas Cianjur Pemerintah telah mengimpor sapi perah FH secara besar-besaran, meskipun
demikian produksi susu dalam negeri masih belum memenuhi pennintaan susu.
Akibatnya j umlah impor susu dari tahun ke tahun terns meningkat. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa tingkat efisiensi usaha sapi perah di Indonesia masih sangat
rendah. Rendahnya tingkat efisiensi tersebut dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor
seperti keadaan lingkungan, manajemen pemeliharaan, pemberian pakan, dan
manajemen produksi. Diantara faktor-faktor tersebut yang paling utama adalah
teknik pemberian pakan. Pakan merupakan faktor yang sangat ber peran dalam
kualitas dan kuantitas susu. Penyediaan pakan dalam jumlah yang cukup dan
ditunjang dengan nilai nutrisi yang baik perlu diperhatikan karena merupakan salah
satu faktor yang dapat menentukan tingkat keberhasilan pemeliharaan sapi perah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar lemak dan produksi susu sapi
perah peternakan rakyat di KUD Cipanas Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur dalam
kaitannya dengan teknik pemberian pakan yang dib erikan setiap harinya.
Metode yang digunakan adalah metode survey melalui wawancara dengan
petemak responden, pengamatan dan pengukuran langsung. Data yang dikumpulkan
diperoleh dari 30 peternak anggota KUD Cipanas yang dipilih secara acak. Data-data
yang dicatat antara lain adalah lingkar dada, umur temak, bulan Iaktasi, periode
Iaktasi, produksi susu, kadar lemak, dan pemberian pakan. Pengukuran produksi susu
dilakukan pada pagi dan sore setelah selesai pemerahan pada setiap ekor sapi yang
dipelihara, sedangkan kadar lemak susu dianalisa dengan metode Gerber di
Laboratorium susu KUD Cipanas. Pakan ditimbang berdasarkan jumlah
pemberiannya per ekor per hari. Penentuan hubungan antara kadar lemak susu dan
produksi susu dengan variabel-variabel terkait, data dianalisis dengan analisis regresi
linier berganda.
Pemberian pakan sapi laktasi di petemak anggota KUD Cipanas tidak
memperhatikan jumlah dan keadaan pakan yang diberikan. Sapi diberi pakan tidak
berdasarkan kebutuhan masing-masing ternak. Imbangan pemberian BK hijauan dan
konsentrat adalah 65 : 35. Pemberian pakan pada sapi tidak berdasarkan bobot badan.
Sapi yang bobot badannya besar diberi pakan hampir sama dengan sapi yang bobot
badannya kecil. . Begitu pula dalam pemberian BK, TDN dan PK-nya masih kurang
dari yang dibutuhkan sapi.
Rata-rata produksi susu sapi perah di KUD Cipanas per ekor per hari adalah
10,00 ± 5,09 kg. Puncak produksi susu terjadi pada bulan ke tiga setelah beranak,
kernudian turun secara bertahap. Peternak di KUD Cipanas cenderung untuk tetap
memelihara sapi yang produksinya masih tinggi, meskipun umurnya sudah tua.
Berdasarkan analisis regresi berganda, maka diperoleh persamaan hubungan antara
produksi susu (Y1 ) dengan BK hijauan (X1 ), BK konsentrat (X2 ), TON (X3) dan PK
(X4) adalah Y1 = 0,3-2,74X1 + 7,86X2 dan Y1 = -121 +20,9- 17,9X4.
Persentase rataan kadar lemak susu sapi perah petemak anggota KUD Cipanas
adalah 3,82 ± 0,35. Interval pemerahan yang tidak seimbang menye babkan rataan
kadar lemak susu sapi perah peternak anggota KUD Cipanas pada sore hari lebih
besar dari pagi hari. Berdasarkan analisis regresi linier berganda, maka diperoleh
persamaan hubungan anfara kadar lemak (Y2) dengan BK hijauan (X1), BK
konsentrat (X2), TDN (X3 ) dan PK (X4) adalah Y2 = 4,01 - 0,215X1 + 0,385X2 dan
Y2 = -0,16 + 0,61X3 -0,36X4.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa jumlah pemberian pakan pada temak
sudah cukup baik, tetapi tidak berdasarkan pada kebutuhan ternak, sehingga terjadi
kelebihan dalam pemberian pakan untuk sapi yang belum tentu akan dikonsumsi oleh
sapi tersebut. Produksi susu rata-rata sapi perah petemak anggota KUD Cipanas
tergolong baik, yaitu sebesar I 0,00 ± 5,09 kg per ekor per hari. Rataan persentase
kadar lemak susu sapi petemak di KUD Cipanas sebesar 3,82 ± 0,35 persen.
Produksi susu berhubungan dengan tingkat pemberian BK hijauan, BK konsentrat,
TDN, dan PK, sedangkan kadar lemak susu tidak berhubungan dengan tingkat
pemberian BK hijauan, BK konsentrat, TON, dan PK. | id |