| dc.description.abstract | Pemberian pakan untuk sapi laktasi pada peternakan rakyat pada umumnya tidak
berdasarkan atas kebutuhan individu ternak akibatnya ternak tersebut tidak
berproduksi sesuai dengan kemampuannya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi produksi susu dan kadar lemak susu sapi perah peternakan rakyat di
Desa Sebaluh Kecamatan Pujon, Jawa Timur dalam hubungannya dengan jenis dan
jumlah pakan yang diberikan.
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer didapatkan
dengan cara pengamatan dan pengukuran secara langsung terhadap l 20 ekor sapi
perah yang dipelihara oleh 30 orang peternak anggota Koperasi “SAE" yang meliputi
umur temak, bulan laktasi, periode laktasi dan lingkar dada. Jumlah pakan yang
diberikan pada tanggal pencatatan ditimbang berdasarkan jenisnya. Produksi susu
diukur dengan menimbang hasil pemerahan pagi dan sore hari, sedangkan kadar
lemak susu dianalisa dengan metode Gerber di Laboratorium Susu Koperasi "SAE"
Pujon. Data sekunder didapatkan dari buku Laporan Tahunan Koperasi, publikasi
hasil-hasil penelitian serta buku yang ada hubungannya dengan penelitian ini.
Analisis data menggunakan regresi lienier ganda ( Steel and Torrie, 1995) untuk
mengetahuai besarnya hubungan pemberian BK hijauan (Xi), BK konsentrat (X2),
TDN (X:,) dan PK (Xi) terhadap produksi susu (Y: 1 dan kadar lemak susu (Y2).
Pemberian pakan sapi laktasi di Desa Sebaluh tidak berdasarkan kebutuhan
individu temak. Rataan pemberian BK adalah 3, 160
dari bobot badannya sedangkan imbangan antara BK hijauan dengan BK konsentrat adalah 48:52. Kekurangan BK terjadi pada bulan lakiasi ke-3 yang diduga disebabkan tingginya produksi susu pada
puncak lakiasi sehingga kebutuhan BK meningkat. Kekurangan energi terjadi pada
bulan lak.iasi ke-1, 2, 3 dan 5 secara berturut-tunn sebesar 1,27 kg; 0,05 kg; 1,90 kg
dan 0,55 kg. Pemberian energi yang berlebihan juga terjadi yang diduga disebabkan
beragamnya kemampuan berproduksi susu dan bobot badan sapi perah dalam setiap
pengelompokan. Kekurangan protein terjadi pada bulan Iaktasi ke- 1, 2, 3 dan 5
secara berturut-turut sebesar 0,27 kg: 0, 17 kg: 0.50 kg dan 0, 14 kg.
Rataan produksi susu per ekor per hari di Desa Sebaluh adalah 13,00±5,69 kg.
Puncak laktasi dicapai pada periode laktasi ke-4 dengan rataan produksi susu sebesar
15,15±6,73 kg/ekor/hari, sedangkan puncak produksi dalam satu masa lakiasi
dicapai pada bulan taktasi ke-3 dengan rataan produksi susu sebesar 18,07±6 ,87
kg/ekor/hari. Rataan kadar lemak susu di Desa Sebaluh adalah 4,00±0,46%. Kadar
lemak susu tertinggi dicapai pada bulan laktasi ke-4 pada saat produksi susu
menurun dengan rataannya sebesar 4,28±0,.50%. Dari hasil analisis regresi berganda
dengan program Minitab didapatkan bahwa persamaan Y1 = 9, 11 - l ,59X3 + 10,6X4
(R-=l 5,6%) yang artinya bahwa kombinasi pemberian TDN (X3) dan pemberian PK
(X4) secara bersama-sama sangat nyata lebih mempengaruhi produksi susu
dibandingkan dengan persamaan Y1 = 8,82 + 0,021X1 + 0,549X2 (R2 = 7,2%) yaitu
kombinasi antara pemberian BK hijauan (X1 ) dan pemberian BK konsentrat (X2).
Dari kedua peubah bebas (X3 dan X4) menunjukkan bahwa produksi susu dominan
dipengaruhi oleh pemberian PK dalam ransum. Sedangkan dari hasil analisis regresi
berganda antara BK hijauan (X1 ), pemberian BK konsentrat (X2), pemberian TDN
(X3) dan pemberian PK X4 terhadap kadar lemak susu didapatkan dua pcrsamaan
yaitu Y2 = 4,27 - 0,0190X 1 - 0,0197X2 dan Y2 = 4,26 - 0,0454X3 + 0,074X4,
keduanya memiliki koefisien determinasi sebesar 4, 1 %. Namun, dari k eempat
peubah bebas (X1 , X2,X3 dan X4) tersebut didapatkan bahwa Ftabel > 0,05 yang dapat
diartikan bahwa semua peubah bebas tidak nyata mempengaruhi kadar lemak susu.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa pemberian BK, TDN dan PK
mengalami kekurangan pada awal laktasi, sedangkan di akhir laktasi pemberiannya
berlebihan. Produksi susu yang optimal belum dicapai semua temak. Persentase
rataan kadar lemak susu telah sesuai standai Industri Pengolahan Susu "Nestle".
Produksi susu berhubungan dengan tingkat pemberian BK hijauan, BK konsentrat
dan PK, sedangkan TON berkorelasi negatif dengan produksi susu. Kadar lemak
susu tidak berhubungan dengan tingkat pemberian BK hijauan, BK konsentrat, TDN
dan PK karena terdapat faktor lain yang Iebih mempengaruhi. | id |