Show simple item record

dc.contributor.advisorMulatsih, Sri
dc.contributor.advisorSiregar, Hotnida C.H.
dc.contributor.authorAfrilia, Juhan Danix
dc.date.accessioned2023-10-23T14:23:38Z
dc.date.available2023-10-23T14:23:38Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/127730
dc.description.abstractSutera merupakan salah satu produk peternakan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan serat sutera alam. Kondisi agroklimat Indonesia cukup menguntungkan bagi pengembangan persuteraan alam. Teknik budidaya ulat sutera relatif sederhana, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan sifatnya padat karya. Budidaya ulat sutera diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1927, bahkan pemerintah telah mendirikan pusat-pusat pembibitan dan daerah- daerah pengembangan usahaternak ulat sutera. Namun Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan benang sutera dalam negerinya. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak kesempatan untuk meningkatkan volume produksi tersebut. Peternak sebagian besar masih menggunakan cara sederhana dalam mengusahakan budidaya ulat sutera. Mereka kurang memperhatikan teknik usahaternak ulat sutera, sehingga manfaat yang diperoleh minimum. Oleh karena itu usahaternak tersebut perlu dianalisis agar dapat diketahui kelayakan dan manfaat yang diperoleh peternak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut mempunyai jumlah peternak ulat sutera terbanyak di Kabupaten Sleman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik peternak dan usahaternak ulat sutera, mengetahui teknik budidaya ulat sutera serta menganalisis kelayakan finansialnya. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret sampai April 2004. Peternak ulat sutera di Kecamatan Ngaglik dibagi dalam tiga kelompok menurut rata-rata luas lahan yang digunakan untuk usahaternak ulat sutera, yaitu rata-rata luas lahan 0,06 ha (<0,09 ha); 0,15 ha (0,09-0,20 ha) dan 0,40 ha (>0,20 ha). Peternak rata-rata berumur 52,25 tahun; tingkat pendidikan terbanyak adalah SLTA; lama berusahaternak rata-rata 4,06 tahun; sebagian besar peternak tidak mengikuti pelatihan budidaya ulat sutera dan bermatapencaharian sebagai petani. Dua kegiatan pokok dalam teknik usahaternak ulat sutera yang dilakukan oleh peternak ulat sutera di Kecamatan Ngaglik adalah budidaya murbei dan pemeliharaan ulat sutera besar untuk produksi kokon. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam hal penanaman stek murbei yang dilakukan tanpa penyemaian terlebih dahulu menyebabkan tingkat kematian stek sebesar 20 % dan kebersihan yang kurang diperhatikan diantaranya kebersihan individu peternak pemelihara ulat dan kebersihan ulat dari sisa pakan serta kotoran ulat, sehingga menyebabkan kegagalan pengokonan sebesar 30,04%. Kegagalan pengokonan meliputi mortalitas...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural Universityid
dc.subject.ddcUsaha ternak Ulat Suteraid
dc.titleAnalisis kelayakan finansial usaha ternak ulat sutera di kecamatan ngaglik Kabupaten Sleman daerah Istimewa Yogyakartaid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordulat sutera, finansial, kelayakan dan analisisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record