Show simple item record

dc.contributor.advisorBudiardi, Tatag
dc.contributor.advisorWahjuningrum, Dinamella
dc.contributor.authorAzizi, Aqil
dc.date.accessioned2023-10-23T04:12:10Z
dc.date.available2023-10-23T04:12:10Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/127602
dc.description.abstractSalah satu masalah produksi udang windu adalah kualitas benur udang windu yang belum siap ditebar di tambak, sehingga banyak mengalami kernatian. Oleh karena itu diperlukan pentokolan benur selama 2-4 minggu sebelum ditebar di petak pembesaran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimum benur dalam kegiatan pentokolan yang menggunakan sistem resirkulasi berdasarkan produksi yang dihitung dari kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2004 di Teaching Farm, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak. Lengkap (RAL) dengan perlakuan padat tebar 25 dan 50 ekor/liter masing-masing 4 ulangan serta padat tebar 75 dan 100 ekor/liter rnasing-masing 3 ulangan. Udang yang digunakan adalah udang windu Penaeus monodon Fabricius PL-12, dengan panjang awal (12,1 ± 1,2) mm. Udang dipelihara dalan1 akuarium yang berukuran 80 x 40 x 35 cm dengan volume efektif 80 liter. Benur diberi pakan buatan berbentuk crumble berkadar protein 38% dan pakan alami {artemia). Pakan buatan diberikan sebanyak tiga kali sehari Garn 09.00, 21.00, 03.00) dan arternia pada jam 15.00. Pakan diberikan secara ad ./ibitum dan dicatat jumlahnya setiap pemberian. Data yang diperoleh adalah kelangsungan hidup, laju pertumbuhan panjang harian, koefisien keragaman, kepadatan akhir, keberadaan bakteri Vibrio sp dan kualitas air. Dari data tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan Analisis ragam (Anova) pada selang kepercayaan 95% dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok padat penebaran. Parameter kualitas air dan keberadaan bakteri Vibrio sp dianalisis secara diskriptif. Peningkatan kepadatan tebar udang windu mulai dari 25, 50, 75 dan 100 ekor/l sampai pemeliharaan minggu kedua dapat mempengaruhi kelangsungan hidup, laju perturnbuhan panjang harian dan kepadatan akhir. Kelangsungan hidup tertinggi pada kepadatan tebar 50 ekor/l, laju perturnbuhan panjang harian pada kepadatan tebar 50 ekor/l dan kepadatan akhir pada kepadatan tebar 100 ekor/l. Peningkatan kepadatan tebar tidak mempengaruhi koefisien keragaman panjang. Pemeliharaan sampai minggu keempat mempengaruhi kelangsungan hidup dan kepadatan akhir. Kelangsungan hidup tertinggi pada kepadatan tebar 25 ekor/l dan kepadatan akhir pada kepadatan tebar 100 ekor/l. Peningkatan kepadatan tebar tidak mempengaruhi laju pertumbuhan panjang dan koefisien keragaman. Tokolan udang windu yang diproduksi tidak mengandung bakteri Vibrio harveyi sehingga udang windu memenuhi standar produksi tokolan. Berdasarkan tiga prinsip budidaya perairan yaitu optimalisasi lingkungan, minimalisasi lirnbah budidaya dan maksimalisasi produksi dapat disimpulkan bahwa produksi tokolan udang windu dalam sistem resirkulasi yang memberikan keuntungan tertinggi adalah pada kepadatan tebar 100 ekor/l.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcUdang winduid
dc.subject.ddcResirkulasiid
dc.titleProduksi Tokolan Udang Windu Penaeus monodon Fabricius dalam Sistem Resirkulasi dengan Padat Tebar 25. 50, 75 dan 100 Ekor/Lid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record