| dc.description.abstract | Ikan nila merupakan salah satu kelompok ikan penting untuk dibudidayakan,
karena memiliki resistensi yang relatif tinggi terhadap kualitas air yang buruk dan
p enyakit, memiliki toleransi yang luas terhadap kondisi lingkungan yang buruk dan
mampu tumbuh dengan baik di berbagai tipe perairan. Akan tetapi usaha budidaya
ikan nila tennasuk juga ikan nila merah terganggu oleh sifat ikan yang mudah
berkembang biak, yang dapat menyebabkan terjadinya pemijahan yang tidak
terkontrol dan kepadatan yang berlebih akibatnya akan menghambat pertumbuhan.
Budidaya ikan nila tunggal kelamin (monosex) jantan merupakan salah satu
solusi untuk mengatasi pemijahan yang tidak terkontrol dan diketahui pula bahwa
ikan nila jantan memiliki pertumbuhan yang cepat di banding ikan nila betina.
Salah satu upaya untuk mendapatkan individu jantan secara massal adalah
melalui teknik sex reversal, baik secara langsung (terapi hormon atau bahan kirnia)
maupun tidak langsung (rekayasa kromosom). Sex reversal secara langsung dapat
menggunakan bahan steroid (hormon) atau bahan-bahan kimia yang dapat
memanipulasi diferensiasi kelamin. Aromatase inhibitor merupakan salah satu bahan
kimia yang dapat digunakan untuk sex reversal melalui pengham batan aktifitas enzirn a romatase.
Namun pemberian aromatase inhibitor secara oral (pakan buatan) memiliki
beberapa kelemahan, diantaranya jika pakan tidak segera termakan habis
kemungkinan besar aromatase inhibitor akan tercuci (leaching) ke dalam media
budidaya sehingga aromatase inhibitor kurang sempurna dalarn mengarahkan
pembentukan kelamin. Sebagai alternatif adalah melalui metode bioenkapsulasi yaitu memasukkan aromatase inhibitor ke dalam pakan hidup (artemia) kemudian
diberikan ke larva.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian arternia
(Artemia sp.) yang telah direndam dalam larutan aromatase inhibitor terhadap tingkat
keberhasilan sex reversal ikan nila merah ( Oreochromis sp ). Rancangan percobaan yang digunakan. adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan clan satu kontrol, masing-masing diulang sebanyak tiga kali.
Perlakuan diberikan ke larva selama 5 hari berturut-turut pada hari ke-9 sampai hari
ke-13 setelah menetas dengan frekuensi 3 kali sehari secara adlibitum. Perlakuan
tersebut adalah pemberian pakan ke larva berupa artemia yang direndarn dalarn
larutan aromatase inhibitor dengan dosis 500 mg/1, 1000 mg/I dan 1500 mg/l.
Sedangkan untuk kontrol, artemia tidak direndam dalam larutan aromatase inhibitor.
Setelah perlakuan selesai, larva dipelihara tanpa diberi perlakuan hingga
mencapai ukuran yang siap diidentifikasi kelamin (kurang lebih tiga bulan).
Parameter yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup (SR) dan
persentase kelamin jantan ikan nila merah ( Oreochromis sp. ). Data yang diperoleh
dianalisis secara statistik menggunakan sidik ragam setelah memenuhi asumsi.
Setelah perlakuan, tingkat kelangsungan hidup rata-rata ikan nila rnerah
(Oreochromis sp.) pada kontrol dan perlakuan masing-masing 100%, 99.67%, 99%
clan 99.33%. Sedangkan setelah pemeliharaan, masing-masing 94%, 94.67%, 92.33%
dan 94. 67%. Hasil analisis sidik ragam baik setelah perlakuan maupun setelah
pemeliharaan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) antara
perlakuan dan kontrol.
Berdasarkan hasil identifikasi gonad secara histologis, persentase rata-rata
kelamin jantan pada kontrol dan perlakuan berturut-turut 62.76%, 6 1.60%, 67% dan
70.46%. Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan
berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pengarahan kelamin (sex reversal) ikan nila
merah. Melalui uji beda nyata jujur (BNJ) diperoleh basil bahwa dosis 1500 mg/1
merupakan dosis terbaik dengan menghasilkan ikan nila kelamin jantan tertinggi
yaitu sebesar 70, 46%.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemberian artemia (Artemia sp.)
yang direndam dalam Iarutan aromatase inhibitor berpengaruh terhadap nisbah
kelamin jantan ikan nila merah ( Oreochromis sp. ), dengan persentase tertinggi
diperoleh pada dosis 1500 mg/1 yaitu sebesar 70,46%. | id |