Show simple item record

dc.contributor.advisorBudiardi, Tatag
dc.contributor.advisorUtomo, Nur Bambang Priyo
dc.contributor.authorSalleng, Rachmat Djumadi
dc.date.accessioned2023-10-20T01:44:36Z
dc.date.available2023-10-20T01:44:36Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/127362
dc.description.abstractSalah satu usaha untuk menghasilkan benih udang windu yang lebih kuat dan lebih tahan terhadap fluktuasi lingkungan tambak, adalah dengan penokolan. Penokolan adalah pemeliharan benur pada stadia PL-12 menjadi PL-25 dalam lingkungan yang relatif terkontrol agar dapat beradaptasi dengan cepat di lingkungan tambak. Peningkatan produksi juga dapat dihasilkan dengan meningkatkan padat penebaran udang. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian mengenai padat tebar dalam proses penokolan yang dapat menghasilkan produksi yang maksimal dengan lebih efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan optimum benur dalam usaha penokolan udang windu di dalam hapa berdasarkan produksi yang dihitung dari pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober - Nopember 2004 di tambak yang berlokasi di daerah Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perl akuan dan masing-masing tiga ulangan. Perlakuan yanf diterapkan berupa padat penebaran benur, yaitu sebanyak 250 ekor/m2, 500 ekor/m , 750 ekor/m2 , serta 1000 ekor/m2. Hewan uji yang digunakan adalah Udang Windu (Penaeus monodon Fabr). PL 12 dengan panjang awal 11±0,16 mm. Udang dipelihara dalam 12 buah hapa berukuran 1 x 1 x 1 m3 selama 14 hari. Udang diberi makan menggunakan pakan komersil yang berbentuk crumble dengan frekuensi 2 kali sehari yaitu pagi hari pada pukul 07 .00 dan sore hari pada puk:ul 17 .00. Pakan diberikan secara ad libitum dan dicatat jumlahnya. Data yang diperoleh berupa data panjang tubuh udang, derajat kelan gsungan hidup, laju pertumbuhan panjang harian, kepadatan akhir, koefisien kerag aman dan data kualitas air. Data tersebut kemudian dianalisis secara statistik menggunakan analisis ragam (Anova) pada selang kepercayaan 95% dan uji lanjut Beda Nyata TerkeciL (BNT) untuk mengetahui adanya perbedaan antar kelompok padat penebaran. Ana1isis secara deskriptif digunakan pada parameter kualitas air. Udang yang telah dipelihara selama 14 hari pada proses penokolan mengalami pertumbuhan walaupun tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan. Demikian halnya dengan koefisien keragaman dan tingkat kelangsungan hidup udang windu yang tidak dipengaruhi secara nyata oleh perbedaan padat penebaran, sedangkan untuk kepadatan akhir berbeda nyata antar perlakuan (p<0,05). Padat tebar tertinggi yaitu 1000 ekor/m2 menghasilkan kepadatan akhir tertinggi dengan pertumbuhan yang baik, ukuran seragam serta tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcUdang winduid
dc.titleProduksi Tokolan Udang Windu Penaeus monodon Fabricius dalam Hapa pada Tambak Intensif dengan Padat Tebar 250 ekor/m2 , 500 ekor/m2 , 750 ekor/m2 dan 1000 ekor/m2id
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record