Perencanaan Distribusi dan Transportasi dengan Teknik Klasifikasi untuk Mendukung Konsep Manajemen Rantai Pasok.
Abstract
Penelitian ini dilakukan pada sebuah perusahaan agroindustri yang memproduksi ban mobil. Ban mobil digunakan sebagai bantalan antara velg dan aspal, sehingga dapat mengurangi gesekan saat mobil berjalan dan memberikan kenyamanan pada penumpang. Bahan baku pembuatan ban mobil adalah karet alam, karet sintetis, dan campuran beberapa bahan kimia. Ban mobil sebagai finished product, dikelompokkan ke dalam 16 golongan berdasarkan dari kesamaan komposisi bahan baku pembuatan. Pembagian golongan ini akan mempermudah perusahaan untuk menyusun DRP, sehingga jika ingin diurut ke belakang, output dari DRP bisa menjadi input untuk bagian production planning. Tahapan supply chain downstream yang diterapkan oleh perusahaan dimulai dari manufacturer, finished goods warehouse, transporter dan terakhir distributor. Transporter bertugas untuk mengantarkan produk dari finished goods warehouse sampai ke distributor atau mengembalikan produk return dari distributor ke finished goods warehouse. Terdapat 6 transporter yang bekerjasama dengan perusahaan ini, yaitu: Kamadjaja, Efata, Antasena, SNS, PLS, dan Hana. Selain itu, masing-masing transporter ini juga harus memiliki 5 tipe container dengan volume berbeda, yaitu: cold diesel (CD), Fuso, Tronton, Wing Box, dan Trailer. Selama ini perusahaan selalu menerapkan sistem one truck – one destination, sehingga meskipun kapasitas truck belum full load, truck akan tetap berangakat. Melihat permasalahan tersebut, penulis mencoba untuk menyusun perencanaan distribusi dan transportasi yang lebih baik dan diharapkan dapat mengurangi biaya produksi.
Perusahaan tersebut memiliki jaringan distribusi hampir ke seluruh dunia, tetapi penulis membatasi ruang lingkup penelitian hanya untuk Pulau Jawa. BOD perusahaan terdiri dari 3 bagian, yaitu: Central Warehouse, Regional Warehouse, dan distributor. Setiap regional warehouse membawahi beberapa distributor, sehingga demand pada masing-masing regional warehouse akan mencakup semua demand dari distributor dibawahnya. Perusahaan tidak menjual langsung produknya kepada konsumen, tetapi melalui distributor. Penjualan produk pada masing-masing distributor juga tergantung dari kebijakan distributor tanpa ada campur tangan pihak perusahaan. DRP yang dihitung sudah mencakup semua permintaan dari distributor yang diakumulasikan untuk mengetahui jumlah total permintaan pada central warehouse. Perhitungan ini juga sudah menghitung lead time dari central warehouse ke regional warehouse atau regional warehouse ke distributor, sehingga produk akan sampai di distributor pada waktu yang tepat.
Aturan yang ditemukan pada kasus ini berjumlah 70 buah dan menunjukkan bahwa perusahaan harus meninjau ulang kinerja transporter mereka, terutama untuk pengiriman dalam jumlah sedikit dan pengiriman dengan menggunakan tipe kendaraan Cold Diesel. Sebagian besar data menunjukkan bahwa pengiriman dengan katagori di atas sebagian besar sampai di tujuan terlambat atau lebih dari standar lead time. Aturan yang didefinisikan khusus untuk pengiriman dengan status late sehingga perusahaan dapat mempertimbangkan lebih serius penggunaan atribut dalam aturan tersebut untuk pengiriman produk.
Perencanaan distribusi dan transportasi akan disusun berdasarkan hasil BOD, DRP, MST dan mengikuti aturan dari decision tree. Diharapkan metode ini akan mendukung pelakasanaan supply chain management di perusahaan, mendapatkan kepuasan konsumen, mengurangi transportation cost dan memenangkan persaingan bisnis pada bidang produksi ban mobil.
